Siapakah Orang Samaria-mu?

Yesus: Menerobos Tembok Prasangka
Orang Yahudi tidak menyukai perumpaaan Yesus tentang orang Samaria yang murah hati – perumpamaan itu membuat imam Yahudi yang berjalan melewati seorang Yahudi yang hampir mati karena dianiaya, tampak jahat, dan orang Samaria yang membantunya menjadi pahlawan. Padahal di pasal yang mendahului (Lukas 9:51-56), Yesus dan para murid justru ditolak bersinggahan di sebuah desa orang Samaria. Ketika itu, dua orang murid-Nya langsung naik pitam dan berkata,”Tuhan, apakah Engkau mau supaya kami menyuruh api turun dari langit dan membinasakan mereka?” (Lukas 9:54). Yesus tidak marah. Mungkin juga Ia merasa kecewa dan jengkel terhadap sikap orang Samaria yang menolak-Nya.

Namun, beberapa hari atau minggu kemudian, Yesus justru berjiwa besar memuji orang Samaria dengan menyampaikan cerita “Orang Samaria yang Murah Hati.” Sebuah kisah fiktif untuk menjawab pertanyaan filosofis seorang ahli taurat, yang memenuhi syarat untuk menjadi tema sebuah seminar teologi sehari: “Siapakah sesamaku manusia?” Cerita ini dipakai Yesus untuk mendidik para pendengarnya (orang Yahudi) guna mematahkan anggapan orang Yahudi, bahwa orang Samaria selalu jahat…bahwa orang yang ditolak, dianggap najis, sesat serta kafir itulah yang bertindak sebagai sesama manusia.

Yesus pasti ingat, bahwa Ia ditolak oleh orang Samaria beberapa hari atau minggu sebelumnya. Mungkin Ia masih jengkel dan kesal. Yesus bisa saja menempatkan orang Samaria sebagai tokoh jahat dan membuat hate speech yang memanaskan (dan mungkin justru memuaskan) hati pendengarnya untuk lebih membenci orang Samaria. Tetapi sebaliknya, Yesus justru berjiwa besar dan menampilkan orang Samaria sebagai “the good guy.

(lanjut ke halaman berikut)