Sabam Sirait – Politik di bawah 7 Presiden

“Tanya hati nuranimu. Kalau isu itu berkaitan langsung dengan kepentingan rakyat dan rasa keadilan masyarakat, maka harus dibela dan ditegakkan sekuat tenaga dan pikiran. Sebaliknya, kalau merugikan hak-hak rakyat, atau mengusik rasa keadilan masyarakat, langsung saja ditolak. Argumentasinya kita buat belakangan.”

“Saya anjurkan kepada kader-kader partai politik untuk terus belajar, membaca apa saja terserah. Kebiasaan membaca itu akan sangat berguna dalam memberikan bobot pada gagasan-gagasan politik yang dilontarkan seorang politisi.”

“Bahwa politik bisa menjadi kotor, itu betul. Tapi, kalau dalam politik sudah bersih semua, ngapain harus kita layani dan bersaksi di sini. Justru karena banyak tantangan dalam politik, maka kita harus melayani dan bersaksi.”

“Berpolitik tidaklah semata-mata seni mengatur kekuasaan negara; berpolitik juga merupakan seni untuk memperbaharui.”

“Saya bukan orang Kristen yang baik, but still I want to be like Jesus.”

“Medio 2001, saat menghadiri acara jamuan makan malam oleh parlemen Amerika, James Moffet, pemilik Freeport McMoRan menghampiri saya, dan bertanya: ”Mr. Sabam Sirait, apa benar anda beragama Kristen?” Saya jawab: ”Ya, saya seorang Kristen.” Moffet kembali bertanya: ”kalau begitu, mengapa anda selalu mempermasalahkan perjanjian Freeport dengan pemerintah Indonesia?” Saya balik bertanya: ”Mr. Moffett, anda pasti seorang Kristen, dan pasti tahu tentang Alkitab. Tuhan saja merasa perlu menurunkan Kitab Perjanjian Baru, karena DIA merasa Kitab Perjanjian Lama belum sempurna. Kalau Tuhan memperbaharui kitab suci, kenapa perjanjian Freeport dengan pemerintah Indonesia tidak boleh diperbaharui?”

“Pertengahan tahun 1960-an: ada rapat umum di Istora untuk mendukung kebijakan Bung Karno tentang konfrontasi Malaysia-Indonesia. Massa yang hadir 10.000 orang. Bung Karno juga hadir. Saya hadir bersama beberapa pimpinan Partai Kristen Indonesia (Parkindo). Saya lupa bagaimana persisnya dan sempat nervous juga, karena saya tampil berpidato mewakili Parkindo, di hadapan Bung Karno. Padahal, waktu itu saya tidak siap untuk berpidato. Untunglah, saya berhasil menyelesaikan pidato sekitar 10 menit. Giliran Bung Karno berpidato. Sepintas beliau sempatkan memuji pidato orang sebelumnya, termasuk saya. “Mana tadi anak muda yang namanya Bambang Sirait. Pidatonya lumayan bagus,” kata Bung Karno. Waduh, dalam hati saya, Bung Karno salah menyebut nama saya menjadi “Bambang” Sirait. Tapi, tak apalah, yang penting Bung Karno sudah memuji pidato saya. Setiap mengenang peristiwa itu, saya selalu merasa bangga, sekaligus lucu.” 

Sumber:

  1. Sabam Sirait – Berpolitik Bersama 7 Presiden, Q Communication, Maret 2019
  2. Politik itu suci – pemikiran dan praktik politik Sabam Sirait, Q Communication, April 2013
  3. Profile in Courage – John F. Kennedy
  4. Foto: Perayaan HUT ke-80 Sabam Sirait. Sumber:liputan6.com