Pesan Gus Dur Mengenai Pekabaran Injil

Manfaat pembatasan sendiri antara lain:
a. ke dalam: upaya ini mendorong orang Kristen untuk menggali lebih dalam lagi pemahaman
yang benar tentang PI; dan

b. ke luar: ia akan memberi kejelasan kepada masyarakat umum.

Di sini, Pdt. Eka justru merasa pesimis. Terutama, karena ia mengenali situasi di dalam kekristenan itu sendiri. Namun Pdt. Eka tetap berpendapat, hal ini harus terus diupayakan, sekalipun tidak memperoleh persetujuan bulat semua pihak.

Keseimbangan yang Dinamis dan Kreatif
Usulan yang dilontarkan Gus Dur menantang umat Kristen untuk tidak hanya memikirkan ulang dan melakukan PI sebagaimana yang pernah, sudah, dan sedang dijalankan. Namun bagaimana memeriksa kembali kebenaran sikap-sikap yang sudah diambil selama ini? Maukah kita melakukannya?

Izinkan penulis mengutip tulisan Pdt Eka sebagai penutup: ”…perkenankanlah saya mengajak saudara-saudara saya sesama umat beragama untuk belajar bersama dan bekerja bersama, mengupayakan terwujudnya keseimbangan yang dinamis dan kreatif antara kebebasan beragama di satu pihak dan kerukunan beragama di pihak lain, dalam konteks masyarakat majemuk Indonesia.

Kita harus waspada untuk tidak membiarkan sedikitpun kebebasan beragama kita terpasung atas nama kerukunan. Sebaliknya, tidak pula membiarkan sedikitpun kerukunan beragama terganggu, hanya oleh karena kita tidak mampu mengelola kebebasan kita dengan bertanggung jawab.” 

Sumber:

  1. “Tokoh Kontroversial, Isu Kontroversial” dalam buku “Gila Gus Dur – Wacana Pembaca Abdurrahman Wahid”, LKiS Yogyakarta, 2000 – editor: Ahmad Suaedy , Ulil Abshar Abdalla
  2. “Selamat Mengindonesia – 33 renungan tentang Kebhinekaan” – Andar Ismail, BPK Gunung Mulia, 2019
  3. “Tuhan tidak perlu dibela” – Abdurrahman Wahid, LKiS Yogyakarta, Mei 2018
  4. “Gereja dalam pendakian puncak sejarah dunia” – TB Simatupang, Fridolin Ukur, dkk – Yayasan Andi, Yogyakarta, 1987