Pesan Gus Dur Mengenai Pekabaran Injil

2. Umat Kristen harus sensitif terhadap perasaan dan integritas agamiah orang lain.

Sekalipun PI adalah amanat dari Tuhan sendiri, para pelaksananya tidak boleh serta merta berpinsip: ”Pokoknya saya melaksanakan perintah Tuhan, peduli amat dengan perasaan orang lain.” Melaksanakan perintah Tuhan tidak dapat kita jadikan dalih pembenaran tindakan yang melukai hati serta perasaan orang lain.

Buku “Memberitakan Injil di tengah Masyarakat Majemuk” juga mengajak gereja menjauhkan diri dari sikap arogansi, yaitu merasa agama kita lebih benar dari agama lain. Dalam memberitakan Injil, kita ”dipanggil untuk memperlihatkan integritas diri, belas kasihan, kemurahan hati, serta kerendahan hati, dan mengatasi kesombongan, serta tidak meremehkan orang lain.”

3. Umat Kristen harus bersedia untuk menertibkan diri sendiri.

PI tidak pantas mengeksploitasi kerentanan dan kelemahan posisi orang lain. Selain itu, cara-cara yang memberi citra negatif tentang kekristenan juga perlu dipertimbangkan. Contoh: PI dalam bentuk pertemuan massal berskala spektakuler dan mencolok (misalnya di stadion utama), dengan publikasi besar-besaran, apalagi disertai kalimat seperti: ”berapa ribu orang bertobat dalam semalam.”
Cara-cara seperti itu tidak salah secara legal, namun tidak arif dan tidak mengandung kepekaan sosial. Tindakan ini bisa dirasakan oleh pihak lain sebagai ancaman dan berpotensi menimbulkan kesalahpahaman yang berbahaya. Bukan tak mungkin akibat publikasi itu, orang percaya bahwa setiap malam ada sekian ribu orang yang convert menjadi Kristen. Padahal, yang sering terjadi adalah yang hadir adalah orang-orang Kristen sendiri.

4. Umat Kristen harus menggariskan sendiri batas-batas PI yang baik dan benar.

Di sini kita kembali pada usulan Gus Dur: adalah orang Kristen sendiri yang harus bersedia membatasi diri dan di dalam kebebasannya menentukan apa yang boleh dan tidak. Kebebasan yang dibatasi dari luar adalah bentuk penindasan. Namun kebebasan yang dibatasi dari dalam adalah bentuk kedewasaan.

(lanjut ke halaman berikut)