Persekutuan Setelah Pertobatan

Oleh: Sidharto Hadi

Apakah di antara Anda ada yang punya pengalaman pertobatan seperti yang dialami oleh Saulus (Kisah Para Rasul 9:1 – 19a), atau paling tidak mirip? Mungkin saja ada tapi mungkin juga tidak, semua berlangsung dalam rancangan dan kedaulatan Tuhan. Setiap individu diciptakan unik, tidak ada yang sama, bahkan kembar identik sekalipun. Demikian pula cara Tuhan untuk menyapa kita juga berbeda-beda.

Cara Perjumpaan Tidak Sepenting Hakekat Perjumpaan

Perjumpaan yang dialami Saulus dengan Tuhan Allah terbilang spektakuler dan radikal. Allah melakukan kehendak-Nya untuk memanggil manusia melalui berbagai cara ataupun proses; misalnya:

Merawat dan Mengelola Hidup Pertobatan

Secara naluri, setelah kita mengalami pertobatan ada hasrat-hasrat atapun kecenderungan-kecenderungan baru. Ini terjadi dengan sendirinya tanpa ada paksaan atau rekayasa dari pihak manapun. Jika kita tidak merespon pembaharuan hidup dengan benar, maka lambat laun pertobatan itu bisa meredup dan akan mati; dan bisa jadi kita kembali menjalani hidup seperti sebelumnya. Tragis.

  • pergumulan hidup yang berat
  • sakit yang tak kunjung sembuh / tak tersembuhkan
  • luka batin yang mendalam
  • dan berbagai pergumulan lainnya.

Kita tak pernah tahu mengapa beberapa orang harus mengalami hal-hal yang dianggap tidak nyaman tersebut merupakan jalan untuk berjumpa dengan Tuhan. Perjumpaan biasanya didahului dengan pertobatan tapi bisa juga berhadapan secara langsung dalam keabadian; artinya saat kita mengalami ‘sakratul maut’ menjelang kita dipanggil-Nya.

Allah menggerakkan individu untuk melakukan pertobatan. Ada kuasa dan campur tangan Allah yang berperan penting bagi titik balik kehidupan seseorang. Selanjutnya, bagaimana pasca pertobatan itu kita dapat hidup dengan buah-buah pertobatan.

Salah satu bentuk merawat dan mengelola hidup setelah pertobatan adalah bergabung dalam persekutuan jemaat Tuhan. Sebagai orang percaya, kita tidak dapat hidup sendirian – di luar persekutuan jemaat Tuhan. Naluri kita sebagai orang beriman adalah hidup di dalam persekutuan. Antaranggota persekutuan saling mengingatkan, menguatkan dan menghibur. Dalam bagian akhir ‘Tata Ibadah Pengakuan Percaya atau Sidi’ menyatakan hal tersebut. Nukilannya sebagai berikut:

PESAN BAGI JEMAAT
(Para anggota Baptisan Kudus Dewasa dan Sidi baru diminta menghadap ke arah anggota Jemaat)
Pendeta: Jemaat Tuhan yang berbahagia, terimalah saudara-saudara ini sebagai sesama anggota tubuh Kristus dan pewaris Kerajaan Allah dengan penuh kasih sayang. Saling merawatlah, saling memeliharalah, saling menegurlah, supaya dalam kesatuan jemaat, karya Allah nampak nyata.
Umat: Dengan sukacita dan syukur kepada Tuhan, kami menyambut saudara-saudara, untuk bersama dengan kami, bersekutu serta bersaksi dan melayani bagi Kristus, karena kita satu tubuh di dalam Dia.

Itu merupakan pesan gerejawi, oleh karena itu, “Janganlah kita menjauhkan diri dari pertemuan-pertemuan ibadah kita, seperti dibiasakan oleh beberapa orang, tetapi marilah kita saling menasehati, dan semakin giat melakukannya menjelang hari Tuhan yang mendekat (Ibrani 10:25).”

Salah satu bentuk merawat dan mengelola hidup setelah pertobatan adalah bergabung dalam persekutuan jemaat Tuhan.

Mensana in Corpore Sano

Ini adalah ungkapan lama yang artinya “di dalam tubuh yang sehat, terdapat jiwa yang kuat.” Ungkapan tersebut dapat pula diinterpretasikan bahwa di dalam jiwa yang sehat terdapat badan yang sehat. Ngga percaya? Coba kita perhatikan. Sekarang ini banyak orang yang pergi ke dokter untuk memeriksakan diri, namun sakit penyaitnya tak terdeteksi. Konon, sakit yang diderita sang pasien berkaitan erat dengan masalah kejiwaan. Nah! Artinya, bila kita tidak pandai mengelola hati dan pikiran kita secara positif, maka tubuh kita akan terkena dampak negatif. Renungkan ayat berikut: “Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan” (Amsal 4:23).

Latihan Rohani

Banyak orang melakukan gym, jogging dan berbagai bentuk olah raga lainnya untuk menjaga kebugaran tubuh agar senantiasa sehat, tidak mudah sakit. Itu adalah untuk jasmani kita. Bagaimana melatih agar jiwa atau rohani kita juga bugar? Bagi penulis, gereja adalah semacam base camp, tempat menjalani latihan-latihan iman sebelum masuk ke realitas kehidupan. Alangkah baiknya bila kita mau ikut ambil bagian dalam pelayanan, karena melalui interaksi dengan sesama anggota jemaat, kita berlatih agar tetap bugar secara rohani.

Konkritnya demikian: bagi orang yang selama ini belum pernah ambil bagian dalam pelayanan, mereka sangat berharap bahwa di dalam gereja, mereka akan menjumpai suasana sorgawi. Namun pada kenyataannya gereja itu kan masih ada di muka bumi, bukan di atas langit sana. Di gereja mereka akan menjumpai orang-orang dengan berbagai latar belakang dan karakter yang berbeda. Bukan mustahil mereka akan bertemu dengan orang-orang yang temperamental, garang, ketus, suka ngegosip, dan lain sebagainya yang pada akhirnya membuat mereka kecewa dengan gereja.
Tipe seperti ini akan dengan cepat berkesimpulan bahwa kehidupan di gereja tidak ada bedanya dengan dunia luar. Padahal dalam gereja ada banyak anggota jemaat yang hidup layaknya murid Kristus. Sebenarnya bukan tanpa sebab Tuhan mengijinkan hal-hal yang tidak nyaman terjadi. Hal ini sebagai sarana bagi-Nya untuk membentuk setiap warga gereja agar menjadi lebih sabar, rendah hati dan lemah lembut, dengan jalan mencicipi sedikit penderitaan Tuhan Yesus. Melalui latihan-latihan atau pengalaman seperti itu, sesungguhnya kita sedang mengalami proses pemurnian; yang pada akhirnya kita akan memanen buah-buah Roh sebagaimana terdapat dalam Galatia 5:22-23a.

KTB / Cell Group

Mengembangkan kehidupan beriman kita melalui pertemuan rutin 3-4 keluarga yang rumahnya berdekatan, disebut Cell Group atau Kelompok Tumbuh Bersama (KTB). Dalam pertemuan tersebut, antar warga jemaat melakukan sharing, doa bersama dan berbagai bentuk lain yang menggunakan bahan sesuai dengan kebutuhan kelompok tersebut. Melalui persekutuan, kita dapat saling mendukung dan menguatkan. Bila dilakukan secara intensif dan konsisten, niscaya berkat Tuhan akan tercurah; tak hanya berupa materi namun kesehatan, kerukunan dan keutuhan keluarga.

Mezbah Keluarga

Ketahanan iman yang perlu untuk diwujudkan adalah dengan membangun ‘mezbah keluarga.’ Artinya: suatu kebaktian atau ibadah doa keluarga yang diadakan oleh setiap rumah tangga dengan tertib dan teratur. Melalui cara ini kita mengundang Tuhan secara khusus hadir di tengah-tengah keluarga kita. Tradisi ini jika dikembangkan dapat menjadi momen indah bagi setiap anggota keluarga, bahkan menjadi kenangan yang terindah saat anak-anak nantinya satu persatu berumah tangga. Mezbah keluarga dapat menjadi wadah / sarana pendidikan iman yang efektif.

“Didiklah orang muda menurut jalan yang patut baginya, maka pada masa tuanyapun ia tidak akan menyimpang dari pada jalan itu”. (Amsal 22:6)

%d bloggers like this: