Menyembah Tuhan Allah

Oleh: Pdt. Tohom M. Pardede

Bacaan: Lukas 4: 5-8

Tetapi Yesus berkata kepadanya: “Ada tertulis: Engkau harus menyembah Tuhan, Allahmu, dan hanya kepada Dia sajalah engkau berbakti!” (Lukas 4:8)

Kata sembah berarti pernyataan hormat dan khidmat; kata atau perkataan yang ditujukan pada orang yang dimuliakan. Sementara menyembah berarti menghormati dan mengangkat sembah; memuja (sesuatu sebagai Tuhan atau dewa); mengaku di bawah perintah; dan takluk.

Sikap sembah dan menyembah tidak hanya ditujukan kepada Tuhan saja, tetapi juga kepada sesuatu yang lain. Ini bisa terjadi ketika situasi rumit dan sulit. Dalam konteks Yesus berarti saat lapar, lelah, lemah dan tampak sudah tidak berdaya lagi. Dalam keadaan seperti itu, segala tawaran untuk pemuasan diajukan oleh Iblis.

Dalam konteks sekarang, begitu banyak orang yang lapar akan kuasa, akan kemuliaan, akan penghormatan, akan prestise, akan kekayaan, akan kedudukan, akan nama mahsyur dan lain sebagainya. Untuk mendapatkan semuanya itu, begitu cepatnya manusia berubah atau tepatnya menyangkal apa yang menjadi prinsip hidupnya. Bagi mereka yang sudah terjebak, tak lagi punya kepekaan dalan dirinya. Mati rasa. Rasa malu, rasa salah, rasa tanggung jawab, rasa moral dan etika bahkan mungkin rasa iman dan batin pun sudah mati. Inilah yang disebut sikap takluk dan mengaku di bawah perintah. Inilah sikap menyembah tetapi bukan kepada Tuhan.

Pada masa milenial ini, masih banyak orang terperangkap untuk tunduk pada kekuatan dan kuasa klenik, yang adalah manifestasi iblis sekarang ini. Entah dengan menyembah seperti apa, tidak sedikit orang rela menyembah pada manusia, asal kelaparan dan kehausannya akan kuasa, penghormatan dan kekayaan diperoleh. Perangkap tersebut adalah daerah abu-abu yang membuat kenyang saat dinikmati. Segala cara dilakukan tanpa melihat apakah benar atau salah, halal atau haram, melukai orang lain atau tidak, yang penting keinginannya tercapai.

Semua orang yang demikian dalam bahasa pemazmur 135:16-18, ‘mempunyai mulut, tetapi tidak dapat berkata-kata, mempunyai mata, tetapi tidak dapat melihat, mempunyai telinga, tetapi tidak dapat mendengar, juga nafas tidak ada dalam mulut mereka. Seperti itulah jadinya orang-orang yang membuatnya, semua orang yang percaya kepadanya.’

Apakah itu rekaan saja? Tentu tidak. Lihat dan saksikan berapa banyak orang yang menyembah pemimpinnya, entah itu di pemerintahan, keluarga dan gereja. Berapa banyak orang telah menjadi kambing congek terhadap pendetanya, gembala sidangnya. Berapa banyak orang telah takluk di bawah pengaruh hamba-hamba Tuhan. Bukankah banyak orang, termasuk yang mengaku Yesus Kristus sebagai Tuhannya, tanpa sadar memiliki tuhan-tuhan kecil untuk disembahnya. Rela mendengarkan tanpa harus dimengerti dan dicerna. Bukankah banyak orang tampak seperti robot hidup (istilah lain menggambarkan manusia dalam Mazmur 135:16-18) datang beribadah, tetapi sesungguhnya sedang tidak menyembah Tuhan Yesus.

Sadarlah bahwa begitu banyak orang menjadi orang beriman robot, anggota jemaat robot, pendeta robot, pelayan-pelayan robot dan robot-robot rohani lainnya. Kita pun akan menjadi manusia robot, jika kita masih takluk dan menyembah manusia atau sesuatu yang dapat memuaskan seluruh keinginan hati, tubuh, perasaan, pikiran dan akal budi serta roh kita.

Yesus mengingatkan kita, agar tidak terpesona  dengan tawaran-tawaran fatamorgana yang berujung pada penyembahan kepada manusia dan iblis.

Saat iblis menawarkan semua kerajaan dunia, kuasa dan kemuliaannya kepada Yesus dengan syarat menyembahnya, Yesus menjawab: Ada tertulis: “Engkau harus menyembah Tuhan, Allahmu, dan *hanya kepada Dia sajalah engkau berbakti!”

Kira-kira apa jawaban kita, saat iblis menawarkan hal itu kepada kita? Lalu apa jawabannya saat manusia lainnya menawarkan itu kepada kita?

Hati-hatilah!

Yang kerap kali terjadi bukan kita menerima tawaran itu, tetapi kita menginginkannya, mengejarnya bahkan yang lebih mengerikan, kita menawarkannya agar kita disembah, agar banyak orang takluk kepada kita.

Gumulilah hal ini di hadirat Allah yang Mahakudus dan selidikilah diri kita, apakah sesungguhnya kita sedang menyembah Tuhan atau menyembah manusia.

Ingat, jangan biarkan diri kita menjadi manusia robot dalam bingkai pekerjaan, bermasyarakat, lebih lagi dalam berjemaat, beribadah dan melayani! Roh Kudus menolong kita. Amin. (pastori020219:07:50)

%d bloggers like this: