Mencari Pemimpin

Kedua, anak-anak Tuhan harus bersatu. Tak salah jika Tuhan Yesus mengibaratkan kita sebagai domba-domba-Nya. Layaknya film Shaun the Sheep, domba-domba itu biasanya bandel, tidak akur satu sama lain. Nah, sudah saatnya kita tahu kalau kita mudah tidak akur dengan sesama anak Tuhan. Terbukalah, kurangi tebalnya “awan kecurigaan” di antara sesama anak Tuhan. Kesampingkan kepentingan pribadi di dalam pelayanan. Caranya? Kurangi sedikit, sampai takarannya pas. Berdamailah dengan diri sendiri, dan berdamailah dengan sesama anak Tuhan. Yakinlah itu bisa. Jangan pernah bisa berdamai dengan Tuhan jika tidak bisa berdamai dengan sesama anak Tuhan, apalagi dengan diri sendiri.

Ketiga, tanamkan dalam pikiran, hati, dan jiwa bahwa menjadi anak Tuhan adalah sebuah kehormatan. Tak lagi sekedar panggilan atau kewajiban. Dengan kehormatan, kita akan mengetahui bahwa tidak ada sesuatu yang sia-sia dalam setiap pekerjaan kita, yakni menyatakan kasih dan kebenaran di dalam dunia yang kekurangan pelita. Anak-anak Tuhan perlu menjaga agar pelita kasih tetap menerangi sekelilingnya. Cerdaslah dan bijaksanalah, dalam mengomunikasikan kasih dan kebenaran Allah di dunia ini.

tanamkan dalam pikiran, hati, dan jiwa bahwa menjadi anak Tuhan adalah sebuah kehormatan.

Hari masih panjang. Luka-luka yang kita alami adalah “luka-luka kecil” yang akan segera pulih. Kita memang tak perlu menjadi pahlawan dalam kegalauan bangsa, tapi jadilah guru-guru bangsa.” Pahlawan, seperti kata Chairil Anwar: “sekali berarti, lalu mati,” sedangkan Jakoeb Oetama memberi nasehat: “Jadilah guru, karena guru tidak boleh mati, karena ia harus berarti berkali-kali, dan berkali-kali.” Kiranya Tuhan yang penuh kasih memberkati kita semua dan mengulurkan tangan-Nya serta sigap menggendong, jika angin ribut datang melanda kita.