Mencari Pemimpin

Dalam dua tahun terakhir, ke-bhineka tunggal ika-an bangsa Indonesia tercabik-cabik oleh berbagai konflik yang timbul. Konflik politik dicampuradukkan dengan konflik agama, yang membangun sebuah tembok diametral antara penganut agama tertentu dan lawannya yang disebut sebagai para “kafir.” Pasca peledakan bom di sejumlah gereja di Surabaya membuat anak-anak Tuhan merasa ngeri. Tingkat kewaspadaan ditingkatkan di GKI Kebayoran Baru. Pada saat tulisan ini dibuat, masih tersisa trauma di kalangan para anggota jemaat sehingga penutupan tiga pintu masuk gereja, menjadi satu pintu tetap dipertahankan. Khotbah mimbar berhenti di “titik-titik aman,” tanpa dapat menjelaskan mengapa ini terjadi, dan harus bagaimana kita berbuat.

Pertanyaannya adalah, apa yang harus dilakukan oleh anak-anak Tuhan, para jemaat, dan gereja adalah Jemaat, bukan pada kondisi di tengah kegalauan anak bangsa Indonesia? Sungguh tidak mudah menjawabnya. Faktanya, tekanan ekonomi di dalam negeri, pelemahan Rupiah terhadap dolar Amerika membuat harga-harga meroket, komoditi pertanian di tingkat petani anjlok, pedagang perantara kecil di pasar tradisional terdesak, pedagang retail besar kian merugi. Tarif listrik, toll, BBM terus bergerak ke atas. Apa yang harus dilakukan anak-anak Tuhan di tengah kegalauan bangsa? Setidaknya ada tiga jawaban.

Pertama: ini adalah panggilan yang harus direspon dan dijawab oleh anak-anak Tuhan. Syaratnya: anak-anak Tuhan harus tidak takut. Di dalam Alkitab disebutkan Jangan Takut sebanyak 365 kali, artinya jangan pernah satu hari pun kau merasa takut, karena Tuhan selalu di sisimu, bahkan menggendongmu, kalau perlu. Jangan pernah takut. Takut apa? Takut untuk menyatakan berita kasih dan kebenaran. Jika sesuatu salah, katakan salah. Jika sesuatu benar, katakan benar. Tetapi, kan ada risikonya? Benar, karena itu menyatakan berita kasih dan kebenaran haruslah dengan cara cerdas, tidak boleh naif. Komunikasi menjadi penting dan menentukan pada saat kita harus menyampaikan pesan yang berat, berisiko, dan komplikatif. Kuncinya: tahu pesannya apa (termasuk jenisnya), tahu audiensnya, dan tahu caranya (termasuk medianya, waktunya, dan aktor penyampainya).

(lanjut ke halaman berikut)