Mari Bicara

Oleh: Pdt. Grace Bustami

Hai Dilan…

Ternyata yang berat itu bukan rindu.

Tapi berbicara dengan anak zaman now

Kamu gak bakal kuat, biar kami saja

-Mama Noel-

Air mata haru tak dapat saya tahan ketika melihat tayangan Brooklyn Beckham (19 tahun) yang datang jauh-jauh dari New York untuk memberikan kejutan di hari ulang tahun ayahnya, David Beckham, ke-43. David-pun terlihat dengan mata berkaca-kaca memeluk dan mencium anaknya, sedangkan Brooklyn tanpa malu-malu menunjukkan rasa sayang pada ayahnya. Satu-satunya pertanyaan di benak saya adalah : “Dapatkah saya mengalami momen seperti itu? Dapatkah dengan kondisi hubungan kami saat ini, anak saya kelak akan tanpa malu-malu memeluk dan membiarkan saya menciumnya di depan banyak orang?”

Anak saya lahir sebagai bagian dari Generasi Z dengan ciri khusus menyukai segala yang ‘berbau’ gadget dan sangat mampu melakukan banyak hal dalam waktu bersamaan: makan, minum, nonton, mendengarkan musik, membalas pesan, chat, mengerjakan PR dan online gaming. Luar biasa!! Sedangkan saya akan memilih untuk menghabiskan kerupuk lebih dulu baru kemudian nasinya. Sehingga rasanya keleyengan membayangkan betapa multitasking-nya anak saya, dengan fakta bahwa saya tidak bisa mengejarnya. Kami punya cara berkomunikasi berbeda. Saya memilih untuk menatap wajah anak saya dan berbicara, sedangkan dia lebih menyukai menatap wajah saya di layar ponsel dan berbicara. Saya memilih untuk bertemu teman-teman saya dan berbicara di pojokan café yang nyaman sambil tertawa lepas, sedangkan anak saya bisa ngobrol seru dengan grup chat-nya tanpa suara dan hanya dengan jempol, emotikon dan stiker. Kami berbicara dengan cara yang langit-bumi bedanya. Tapi apakah berarti kami tidak bisa bicara? Saya tetap meyakini satu hal: ada ikatan unik antara saya dengan anak saya yang membuat kami sebenarnya masih bisa berbicara dan saling memahami.

Filipi 2: 1-4 memberi pengertian dan menjadi jembatan dalam berbagai perbedaan yang terjadi dalam sebuah komunitas: kerendahan hati (kesediaan mengutamakan orang lain) menjadi modal untuk menjaga hubungan tetap baik dalam berbagai perbedaan. Ketika orang tua dan anak begitu berbeda dalam pemikiran, pengalaman hidup atau bahkan pilihan cara berkomunikasi, paling tidak orang tua dan anak sama-sama bisa belajar untuk mengutamakan yang lain. Orang tua belajar untuk menerima dan bahkan berani masuk dalam dunia dan pemikiran anaknya untuk menyampaikan pesan: “Kami berjuang mendekati agar memahamimu, Nak.”

Efesus 6: 1-4 tidak dibaca sebagai nasihat yang mengikat kebebasan pihak anak-anak dan tidak juga dibaca sebagai pembelaan bagi orang tua supaya tetap dihormati anak. Ayat-ayat ini menyampaikan fakta mengenai hubungan orang tua dan anak seharusnya menjadi hubungan saling menjaga: menjaga perasaan, menjaga ucapan, menjaga tingkah laku, menjaga pemikiran demi bertahannya hubungan yang bukan hanya baik-baik saja melainkan manis.

Selama orang tua tidak bersedia menyelami dunia anak-anak dan berkeras sebagai satu-satunya pihak yang seharusnya dihormati maka kita telah kehilangan mereka, bahkan sejak mereka masih tinggal bersama kita dan bergantung sepenuhnya pada kita. Mereka akan pulang ke rumah bukan karena ingin; melainkan karena tidak ada tempat tinggal lain. Mereka akan menganggap kita orang tua, bukan karena sayang melainkan karena yang mereka tahu kita-lah yang melahirkan mereka, mereka akan pergi ke gereja bukan karena rindu mengalami perjumpaan dengan Kristus, tetapi karena di gereja mereka bisa ketemu teman-temannya dan main game bersama.

Selama orang tua tidak bersedia menyelami dunia anak-anak dan berkeras sebagai satu-satunya pihak yang seharusnya dihormati maka kita telah kehilangan mereka

Prihatin, kritis, ngeri dan tidak bisa diubah, tapi bisa dijalani asal bersedia. Kesediaan saya berawal ketika saya mengetahui fakta mengenai bunga sakura. Bunga sakura selalu tumbuh mendahului daun, menjadi pertanda musim semi dan sekalipun bertahan hanya 7-10 hari namun memberi rasa bahagia dalam hati semua orang yang merasakan kehadirannya.

Menjalani pilihan yang “tidak biasa” demi memberi kebaikan bukan sebuah hal yang tidak bisa dijalani. Untuk itulah saya memilih untuk merepotkan diri memberi pemahaman tentang gadget dan bukannya mengawasi tiap kali dia memegang ponsel. Saya memilih untuk tidak mendaftarkannya mengikuti berbagai les dan membiarkan dia bangga saat bercerita karena berhasil mengerjakan tugas sekolah dengan memanfaatkan panduan dari situs yang dibuat oleh guru-guru. Saya memilih untuk membiarkan dia menghabiskan kuota mencari panduan bermain gitar dari internet sekalipun saya bisa memasukkannya di tempat les musik karena setelah itu dia akan memamerkan kemampuannya pada saya dan itulah kesempatan kami untuk berbicara. Saya memilih berjuang keras untuk memahami selera musiknya hanya demi bisa berbicara tentang para penyanyi yang tidak bisa saya ingat wajahnya (rasanya semua mirip). Saya memilih untuk saat sedang tidak bersama dengan dia maka saya akan “berbicara” melalui chat dengan berbagai emotikon J. Saya memilih untuk tidak menginap jika sedang bertugas di luar kota hanya supaya anak saya tahu bahwa saya merindukan mereka dan berjuang untuk pulang sekalipun berarti harus bolak-balik. Saya memilih untuk hadir dalam hidupnya dan memberi arti sekalipun saya tidak tahu berapa lama kesempatan itu diberikan Tuhan bagi saya.

Memang sangat merepotkan dan bahkan berat (makanya Dilan ga bakal sanggup) saat kita mengutamakan pihak lain yang notabene mereka adalah anak yang diharapkan melakukan apapun untuk menyenangkan dan membanggakan orang tuanya. Tapi saya bersedia menjalani semua kerepotan itu hanya supaya saat anak saya pulang ke rumah, karena ia ingin berjumpa dengan saya, supaya ia memanggil saya “Mama” karena ia menyayangi saya yang melahirkannya, supaya ia pergi bersama saya ke gereja karena ia memerlukan Yesus yang menjadi Sahabat terbaiknya.

Anak belajar mengutamakan orang tua saat orang tua dengan cara yang bijak juga mengutamakan anak. Anak belajar menghormati orang tua ketika orang tua juga dengan hikmat berusaha menghargai dunia dan perkembangan anak. Mari ubah cara pandang mengenai cara orangtua berbicara dengan anak-anak zaman now hanya supaya kita bisa bicara.

Jadi, mari bicara!

%d bloggers like this: