Kemenangan Iman Dalam Penderitaan

Oleh: Pdt.Woro Indyas Tobing

Menyelami sakit sungguh membutuhkan ruang kerendahan hati untuk belajar dari orang yang telah mengalaminya. Paulus sebagai seorang Rasul mengalami sakitnya sebagai kasih karunia Allah. Kesaksian Paulus di dalam suratnya kepada jemaat di Korintus, demikian:

Tetapi jawab Tuhan kepadaku: “Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna.” “Sebab itu terlebih suka aku bermegah atas kelemahanku, supaya kuasa Kristus turun menaungi aku. Karena itu aku senang dan rela di dalam kelemahan, di dalam siksaan, di dalam kesukaran, di dalam penganiayaan dan kesesakan oleh karena Kristus. Sebab jika aku lemah, maka aku kuat” (2 Korintus 12:9-10)

Dari kesaksian Paulus tersebut, kita belajar menghayati sakit sebagai kelemahan yang justru menjadi kesempatan seseorang untuk mengalami kuasa Tuhan menjadi sempurna. Paulus bersaksi kalau dia justru lebih suka bermegah atas kelemahannya, supaya kuasa Kristus menaungi dirinya. Paulus senang dan rela di dalam kelemahan, sebab jika  kita lemah, maka justru kita kuat!

Sungguh kesaksian hidup yang sangat menginspirasi saya dalam menerima kenyataan sakit kanker payudara tepatnya bulan Maret 2017. Kenyataan yang pada awalnya membuat kami sebagai keluarga merasa syok. Namun perlahan tapi pasti, terasa sungguh kehadiran Tuhan. Dia ada! Bahkan kehadiran-Nya menempatkan saya juga dalam pengenalan Allah secara utuh. Wajah Allah wajah yang menderita bukankah menjadi penghayatan kita juga sebagai murid-Nya dalam menapaki minggu – minggu Pra Paskah ini?

Menyatu bersama Kristus menapaki Via Dolorosa untuk mengalami kemenangan iman. Merengkuh derita bukan untuk larut di dalamnya hingga putus asa, melainkan memenangkannya dalam iman kepada Kristus yang mengalahkan penderitaan, bahkan kematian-Nya dengan kuasa kebangkitan-Nya. Syukur kepada Allah. Anugerah sungguh yang menguatkan kami juga sebagai pribadi, keluarga dan Jemaat, bersama dengan orang-orang yang penuh cinta, kasih dan doa. Menakjubkan sekali. Mujizat terjadi bukan ketika sembuh atau sakit, bahkan mati menurut ukuran dunia ini, melainkan tetap percaya kepada Tuhan apapun yang terjadi. Hal ini yang membuat kami terpulihkan. Berdamai dengan sakit yang Allah ijinkan.

Hal ini yang membuat kami, secara khusus saya sebagai pribadi untuk melanjutkan proses yang terus berjalan. Sungguh tidak mudah namun harus tetap melangkah. Belajar untuk senantiasa tabah, sabar, berserah, dan berpengharapan. Menjalani biopsi, kemoterapi, operasi, dan radiasi. Kami memutuskan menaruh percaya kepada Allah. Berhenti bertanya mengapa Allah memberikan semuanya ini. Berserah pada rencana-Nya apapun itu, dan melangkah maju dalam iman dan berpengharapan kepada Tuhan!

Menghayati sakit sebagai kasih karunia Tuhan sungguh merupakan anugerah-Nya.

Kekuatan, semangat dan berserah penuh tanda kehadiran Tuhan yang merengkuh diri dalam menjalani sakit sebagai penziarahan iman dalam Tuhan sebagai sebuah kesaksian untuk hormat dan kemuliaan bagi nama-Nya. Tuhan meneguhkan kita bersama.

Praise You Lord Almighty!

%d bloggers like this: