4 Cara Mudah Menulis yang Bernas

Oleh: Nitya Laksmiwati

Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan, dan untuk mendidik orang dalam kebenaran. 2 Timotius 3:16

Sahabatians (para sahabat), tahukah Anda bahwa Alkitab yang kita baca, ditulis oleh kurang lebih 40 orang dengan latar belakang yang berbeda-beda dan dalam kurun waktu 1500 tahun? Walaupun Alkitab ditulis dalam rentang waktu 15 abad, apa yang tertulis di dalam Alkitab tidak bertentangan satu sama lain dan tidak mengandung kekeliruan apapun. Luar biasa! Sekalipun merupakan tulisan dari para penulis yang memiliki sudut pandang dan gaya bahasa penulisan yang berbeda-beda, namun Allah sendirilah yang menuntun, memberi ilham, dan menafaskannya. Semua menyatakan bahwa Allah itu Esa, Satu, Tunggal dan sejati yang sama. Tidak ada jalan keselamatan yang lain kecuali melalui Yesus Kristus (Yohanes 14:6; Kisah Rasul 4:12). 

Bagaimana aktivitas tulis menulis di jaman now ini? Bisa jadi memusingkan, atau malah mengasyikkan! Menulis diyakini sebagai sarana untuk menyalurkan dan mengorganisasi ide atau gagasan secara sistematik ke dalam bahasa tulis. Menulis dianggap sebagai medium ampuh untuk mengasah kreativitas, mempertajam konsentrasi, dan meningkatkan kecerdasan otak. Bahkan, menulis bisa menjadi terapi mujarab untuk penyembuhan diri. Wow, mengagumkan! Bagaimana caranya agar kita bisa terampil menulis sesuai kehendak-Nya? Yang pasti, mulailah dengan doa! Mohon bimbingan Roh Kudus agar apapun yang akan kita tulis bermanfaat bagi orang lain dan untuk kemuliaan-Nya saja.

Selanjutnya, lakukan 4 Cara Mudah berikut ini:

  1. Membaca dan Menulis

Aktivitas membaca yang dilakukan secara rutin merupakan kunci untuk membuka jendela dunia. Maksudnya, kalau kita banyak membaca, maka pengetahuan, wawasan, kosa kata, dan pilihan kata akan terus bertambah. Semua intake dari aktivitas membaca menjadi asupan berharga bagi otak kita untuk menulis yang bernas (=berbobot).

Saat mulai menulis, buang jauh-jauh rasa malas, malu, takut tulisan jelek, khawatir tak ada yang membaca, dan sebagainya. Tuangkan gagasan ke dalam tulisan, sehingga antara intake dan output seimbang. Himpunlah bahan-bahan tulisan yang relevan dan mendukung gagasan. Kemudian, kelompokkan secara teratur agar topik yang akan disampaikan, didukung oleh fakta yang saling berkaitan. Lakukan seleksi: mana yang perlu ditulis, mana yang perlu dipelajari, dan mana yang disimpan dulu.

  1. Belajar dan Berlatih

Tanamkan mindset bahwa: dunia di sekitar kita adalah gudang ide cerita. Mulailah dari yang terdekat. Lihat sekeliling, misalnya tengok kehidupan berjemaat di dalam gereja kita. Bagaimana peran gereja terhadap warga jemaat dan masyarakat? Bagaimana warga jemaat dapat aktif melayani Tuhan dan sesama? Apa saja pelayanan Poliklinik “Wahana Asih” bagi warga jemaat dan masyarakat? Apa itu “Pelayanan Adik Asuh?” Masih banyak topik menarik lainnya.

Kembangkan aktivitas menulis dari mana saja, tentang apa saja. Bawa selalu alat tulis dan kertas. Manfaatkan fitur voice recorder pada handphone untuk merekam ide yang tiba-tiba muncul, camera atau video recorder untuk mengabadikan momen berkesan. Lakukan ini setiap hari. Jika sudah terbiasa, menulis akan terasa begitu mudah dan Sahabatians akan menjadi kian terampil. Kuncinya: belajar dan berlatih setiap hari.

  1. Menggali Gagasan

Internet merupakan sumber informasi tak terhingga dan Tuhan menganugerahi kita dengan daya imajinasi tanpa batas. Gunakan akses internet dan anugerah secara positif dan bijak. Menulis bisa menjadi suatu karya penciptaan nilai (value creation) yang bermanfaat bagi pembaca. Galilah gagasan secara mendalam melalui pengamatan atau observasi. Wawancarailah narasumber yang kredibel, agar tulisan jadi bermakna dan berimbang.

Bila mewawancarai narasumber, pastikan mengatur janji temu dan jangan datang terlambat. Siapkan daftar pertanyaan, alat perekam (tape recorder), alat tulis dan kertas untuk mencatat hal-hal penting. Daftar pertanyaan yang disusun biasanya menjawab unsur 5W + H: who says what, to whom, why, when, where, dan how (siapa mengatakan apa, kepada siapa, mengapa, kapan, di mana, dan bagaimana).

  1. Tak Pernah Ada Kata Terlambat

Aulia Oktadiputri (Putri), berusia 9 tahun saat dinobatkan menjadi novelis termuda Indonesia, satu dekade lalu. Sitor Situmorang: wartawan, penyair, esais, dan penulis cerita pendek. Sitor berpulang kala usianya menginjak ke-90 tahun (tahun 2014) dan mewariskan banyak karya tulisan. Maya Angelou. Mengawali debutnya sebagai penulis puisi, prosa, lagu, naskah film, drama, hingga otobiografi. Salah satu kutipan Maya yang terkenal: “There is no Greater Agony than Bearing an Untold Story inside You” (tak ada penderitaan yang lebih hebat daripada menyimpan kisah yang tak terungkapkan dari dalam dirimu).

Tak perlu menunggu ‘siap dan merasa baru bisa’ menulis. Faktanya, setiap hari kita selalu menulis, bukan? Apakah di facebook, twitter, Instagram, blog, e-mail, korespondensi di kantor, membuat laporan, menyiapkan presentasi, dan sebagainya. Tak perlu juga merasa masih terlalu muda atau terlalu tua. Pekerjaan menulis tak kenal usia, karena yang dinikmati dan diapresiasi pembaca adalah tulisan karya Anda. Kran air akan tetap tertutup dan tidak mengalirkan air, apabila kita tidak membukanya. Bagaimana kita bisa menghasilkan satu karya tulisan, kalau kita tak pernah mencoba untuk menulis?

Ada 9 kriteria untuk tulisan yang paling digemari pembaca. Kalau tulisanmu sudah memenuhi salah satunya, delapan lainnya pasti takkan susah. Apa saja 9 Kriteria itu?

  1. Idenya Asli
  2. Mengungkap Hal-hal Baru atau Kekinian
  3. Isinya Menggugah
  4. Mengandung Kejutan
  5. Temanya Istimewa
  6. Menyangkut Tokoh Ternama
  7. Benar dan Lengkap
  8. Bahasanya Bertutur
  9. Khalayak Sasaran dan Medianya Tepat
%d bloggers like this: