Persahabatan Lintas Iman

Oleh: Daniel Bani Winni Emma

Sejatinya, persahabatan antarumat manusia, bisa dilakukan oleh siapa saja, kapan saja, dan di mana saja.

Ningrum, perempuan berhijab, bersahabat dengan Suster Maria Patrice OSF. Mereka bergandengan tangan dan bersiap menyeberang di salah satu jalan raya di kawasan Kidul Loji, Yogyakarta. Adegan tersebut tertangkap kamera Lexy, rekan Ningrum, yang kemudian mengunggahnya di media sosial. Tak dinyana, foto tersebut menjadi viral di awal tahun 2014.

Baik Ningrum, pun Suster Maria Patrice OSF beranggapan bahwa persahabatan mereka adalah hal yang biasa saja. Tak ada yang istimewa. Namun, bagi netizen dan masyarakat luas, foto tersebut dianggap sebagai oase yang menyejukkan. Betapa indahnya persahabatan lintas iman.

Entah sejak kapan iman seakan menjadi batas pemisah antara seseorang dengan yang lain, sehingga perlu dilintasi dan perlu dilompati. Identitas iman lah yang membedakan seorang Kristen dengan penganut agama atau kepercayaan lain. Tak berarti pula bahwa dari perbedaan itu terbangunlah sebuah tembok atau batas pemisah. Disadari atau tidak, justru orang berimanlah yang sering membuat garis batas dan membangun tembok pemisah itu.

Ingatkah Anda nukilan syair lagu berikut : “Oo betapa indahnya dan betapa eloknya, bila saudara seiman hidup dalam persatuan.” Lagu gubahan dari Mazmur 133 adalah mazmur yang indah. Dalam Alkitab TB-LAI syair aslinya demikian: “Sungguh, alangkah baiknya dan indahnya, apabila saudara-saudara diam bersama dengan rukun!”.

Amat disayangkan, ketika digubah menjadi lagu, keindahan persatuan saudara-saudara dipersempit menjadi saudara seiman. Apakah keliru? Tidak juga. Dalam konteks keberagaman denominasi gereja masa kini beserta konflik-konflik yang mengiringi, lagu itu memang kontekstual. Tetapi keindahan tidak hanya terlihat dari persatuan saudara seiman. Kerukunan antarumat yang berbeda iman juga menampilkan keindahan. Coba simak kembali foto Ningrum dan Suster Maria. A picture is worth a thousand words. Ya! Sebuah gambar lebih bermakna daripada seribu kata.

Paradigma membangun tembok justru bertolak belakang dengan tindakan Allah pada manusia. Allah adalah Sang Pencipta, dan manusia adalah makhluk ciptaan-Nya. Tetapi alih-alih membangun tembok, Allah justru berinisiatif untuk membangun jembatan! Perbedaan antara Allah dengan manusia tidak membatasi-Nya untuk menjalin relasi dengan kita. Alkitab kita adalah catatan panjang contoh-contoh tindakan nyata Allah kepada manusia. Ketika Adam dan Hawa melanggar perintahNya, Allah mencari,-manusia bersembunyi. Ketika bangsa Israel keluar dari Mesir, Allah sendiri yang menuntun mereka ke tanah perjanjian. Allah terus menunjukkan inisiatif-Nya membangun jembatan lewat hakim, nabi, raja yang dipilih-Nya.

Hingga era Perjanjian Baru, Yesus adalah bukti nyata inisiatif Allah untuk membangun jembatan dengan manusia. Setelah Yesus naik ke surga, Roh Kudus diutus untuk menjadi jembatan sehingga relasi manusia dengan Allah tidak terputus. Tindakan Allah pada manusia dapat menjadi inspirasi bagi setiap orang yang percaya kepada-Nya untuk menjalin persahabatan lintas iman. Perbedaan sama sekali bukan alasan untuk membangun tembok. Perbedaan justru melahirkan keindahan dalam keberagaman dan kekuatan dalam persatuan.

Foto di atas memberi kita dua inspirasi:
Pertama, secara komunal. Sebagai gereja, kita perlu membangun dan menjalin kerja sama tak hanya dengan saudara seiman tetapi juga saudara lintas iman. Misalnya, problema sosial dan ekonomi di kalangan masyarakat miskin kota Jakarta memerlukan uluran tangan kita. Bergerak bersama-sama dengan para sahabat lintas iman yang memiliki kepedulian sama, akan mewujudkan gerakan bersama nan elok.
Kedua, secara personal. Sebagai seorang pribadi, kita juga tidak perlu menunggu program gereja, dialog-dialog lintas iman, karya-karya bersama. Yang menarik dari foto di atas adalah karena pemandangan itu tidak terjadi di dalam gedung pertemuan atau dalam acara dialog-dialog lintas iman. Pemandangan itu mengambil tempat di jalan raya, yaitu dalam keseharian. Artinya, secara personal, persahabatan lintas iman bisa kita mulai dengan tetangga kompleks di mana kita tinggal. Kita bisa mulai dengan grup-grup WhatsApp alumni sekolah di mana kita menjadi bagiannya. Kita bisa mulai persahabatan itu di tengah keseharian. Stop mempertebal tembok, mulai bangun jembatan!

(Dimuat di Majalah Sahabat Vol.1 Februari 2017)

%d bloggers like this: