Menjadi Terang Dunia

Naskah: Yancen Piris
Penyelaras: Nitya Laksmiwati

Bacaan: Matius 5:13-20

Kamu adalah terang dunia. Kota yang terletak di atas gunung tidak mungkin tersembunyi” Matius 5:14

Firman Tuhan di atas jelas menegaskan: siapapun kita, usia berapapun, dan dalam kondisi apapun, kita dipanggil Tuhan dengan seruan “Kamu adalah terang dunia.”

Kata ‘kamu’ dalam pesan tersebut bukan untuk seseorang atau satu orang saja, tapi kata tersebut menunjuk kepada kita semua. Sebagai pengikut-Nya, kita harus memancarkan terang dari dalam kita kepada duni

 

a. Menjadi terang dunia berarti hidup seturut dengan standar Tuhan. Hidup dengan identitas, fungsi, dan peran yang Tuhan kehendaki, dalam kehidupan kita sehari-hari, di manapun kita berada.

Perintah Tuhan Allah kepada kita untuk menjadi terang dunia, tak dapat ditawar-tawar. Allah datang ke dunia menjadi manusia dan mengorbankan diri-Nya melalui rupa Yesus Kristus, agar hidup kita mempunyai arti. Siapapun kita, kaya atau sederhana, laki-laki atau perempuan, anak-anak hingga orang dewasa, tanpa terkecuali, Tuhan mengasihi dan mati untuk kita.

Setiap orang yang percaya dan beriman kepadaNya harus menjadi terang di dalam seluruh aspek kehidupan. Bila tidak, apa yang akan terjadi?

Simaklah Matius 5 ayat 20: “Maka Aku berkata kepadamu: Jika hidup keagamaanmu tidak lebih benar dari pada hidup keagamaan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, sesungguhnya kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga.” Jadi, sekalipun kita mengaku percaya kepada Tuhan dan melayani-Nya, namun apabila dalam kehidupan sehari-hari kita tidak dapat menjadi terang bagi sesama, maka kita tidak akan beroleh bagian dalam Kerajaan Sorga.

Merujuk pada Yohanes 1 ayat 5: “Terang itu bercahaya di dalam kegelapan dan kegelapan itu tidak menguasainya. Fungsi dan peran kita sebagai anak – anak Allah adalah menjadi terang dunia. Terang yang memberi cahaya dan memancarkan cahaya tersebut, walau di tempat gelap sekalipun.    

Matius 5 ayat 15 bertutur mengenai sasaran terang kita, yakni: siapa saja dan di mana saja. Pernah mengalami mati lampu di rumah? Apa yang terjadi bila kita menyalakan lilin? Cahaya yang bersumber dari lilin tersebut akan berpendar dan menerangi ruangan di sekitarnya. Demikian pula terang yang terpancar dari diri kita adalah pengejawantahan dari semua perkataan, perbuatan, pemikiran, dan tindak-tanduk kita seturut dengan kehendak Allah.  Sehingga, mereka yang melihat dan mendengar perbuatan baik kita akan memuliakan Allah Bapa di sorga.

Rasul Paulus mengatakan: “Dulu kita hidup dalam kegelapan, tetapi karena Kristus, maka kita adalah terang.” Hidup kita tidak hanya berarti, tapi hidup kita juga punya peran menentukan masa depan orang-orang di sekitar kita. Orang yang hidup dalam kegelapan dunia, membutuhkan kehadiran kita sebagai terang dunia. Kehadiran kita wajib melepaskan orang dari rasa kuatir dan takut. Kehadiran kita harus memberikan harapan dan memberi semangat bagi sesama untuk hidup penuh arti.

Mari kita telisik lebih dalam lagi. Apakah hidup keagamaan kita masih mementingkan diri sendiri? Apakah kita sudah menjadi terang bagi sesama kita tanpa pandang bulu? Sudahkah kita meneladani Yesus Kristus saat berlaku sebagai terang dunia di tengah keluarga, gereja, kota, dan bangsa ini? Alih-alih menjadi terang dunia, kita justru menjadi batu sandungan buat sesama. Benarkah? Kiranya Tuhan memampukan kita untuk menjadi terang dunia dan menjadi sahabat yang menerangi sesama, di mana pun kita berada. Amin!

Sumber:

Khotbah Minggu, 5 Februari 2017

(Dimuat di Majalah Sahabat Vol.1 Februari 2017)

%d bloggers like this: