Menjadi Seorang Sahabat

Oleh: Yancen Piris
Penyelaras Akhir: Nitya Laksmiwati

“Hadirkanlah kasih dalam ketidaksempurnaan persahabatanmu, maka engkau akan menemukan keistimewaan sahabatmu.”
– Ronald Pekuwali, Tenaga Pelayanan Khusus GKI KB dan pemerhati masalah sosial.

William Shakespeare, pujangga dari Inggris menyatakan bahwa, “Kata-kata itu mudah dibuat, seperti angin; sahabat yang setia sulit ditemukan.”

Di setiap masa kampanye pemilihan pemimpin di negeri ini janji-janji manis mulai bertebaran. Impian tentang kehidupan yang lebih baik dan sejahtera, kesempatan mendapatkan pekerjaan, jaminan keamanan, kesehatan, pendidikan, dan lain sebagainya, sangat mudah diucapkan. Kenyataannya? Belum tentu dapat terwujud. Demikian pula seseorang yang dengan mudah berjanji untuk menjadi sahabat sejati. Pada praktiknya? Bak jauh panggang dari api.
Mengapa menjadi sahabat sejati itu sulit? Band asal Bandung, Sindentosca, menggambarkan sebuah persahabatan yang dapat lenyap seketika. Coba simak potongan lirik lagu berjudul ‘Kepompong’ berikut:

Dulu kita sahabat
Dengan begitu hangat
Mengalahkan sinar mentari
Kini kita berjalan berjauh-jauhan
Kau jauhi diriku karena sesuatu

Jelas dikatakan bahwa ada sesuatu yang membuat sepasang sahabat menjadi berjauhan dan tak sepikir lagi. Ichwan Panggabean, pegiat layanan di GKI Kebayoran Baru mengatakan bahwa persahabatan bisa jadi relasi yang rawan dimanipulasi. Ketika kasih persahabatan berubah menjadi kasih yang ingin menguasai pihak lain, maka hakekat persahabatan sudah pula berubah. Ketika persahabatan dihubungkan dengan pertanyaan: “Apa fungsinya orang ini bagi kepentingan dan ambisi saya?.”Arti persahabatan mulai bergeser: dari relasi, yang pada dasarnya indah dan tulus, menjadi sarana untuk memperalat pihak lain. Begitu pula ketika persahabatan hanya dihubungkan dengan aspek ekonomi saja, maka persahabatan menjadi sesuatu yang menegangkan dan kehilangan aspek ketulusan.

Seorang pemuda Kristen, sebut saja Irawan, mengaku bahwa dalam bersahabat dengan sesama pemuda di gereja, ia lebih memilih orang-orang yang memiliki kelebihan yang tidak ia miliki. Terus terang, ia mengatakan bahwa aspek ekonomi menjadi pertimbangan utama untuk mengikat tali persahabatan dengan seseorang.  “Kalau nanti saya sedang tidak punya uang, pasti sahabat saya akan membantu,” ujar Irawan disambung tawa ringannya saat melontarkan pandangannya.

Apa yang dirasa baik oleh Irawan, mungkin dirasakan pula oleh banyak orang. Di sisi lain, ada pula kelompok yang menjadi antipati dengan kata ‘persahabatan’. Mengapa?
“Males gue, berkali-kali gue dimanfaatin oleh orang yang mengaku sebagai sahabat. Pas dia butuh, gue dikejar-kejar. Eh…pas giliran gue yang butuh, dia kabur gak jelas ke mana,” tukas Dewi Purnama, salah satu pemudi Kristen. Masih lanjut Dewi, ada seorang pemuda yang berdalih menjadi sahabat. Pada akhirnya jalinan persahabatan selama 5 tahun pun kandas. Dewi dengan sepihak memutuskan jalinan persahabatan karena ia mengetahui bahwa si pemuda mau menjadi sahabatnya hanya untuk memanfaatkan kekayaannya. Kini, Dewi (dan mungkin juga Anda) memilih untuk tidak menjalin persahabatan dengan siapapun. Hal tersebut tentunya sangat disayangkan mengingat saat kita terhubung dengan seseorang (menjadi sahabat), Randy Pausch dalam bukunya berjudul ‘The Last Lecture’, mengutarakan agar kita pun akan menjadi pribadi yang lebih baik.

Selain aspek ekonomi yang kentara menjadi penyebab rusaknya persahabatan, Ronald Pekuwali, Tenaga Pelayanan Khusus (TPK) GKI KB mengatakan, saat ini persahabatan pun dapat hilang karena aspek politik dan perbedaan keyakinan. Terkait dengan asas manfaat dalam sebuah persahabatan, menurut pria lulusan STT Jakarta itu memaparkan bahwa, kembali kepada motivasi seseorang dalam menjalin persahabatan. Masih menurut Ronald persahabatan itu dimungkinkan terjadi saat ada perbedaan dan ketidaksempurnaan antarmanusia. Bisa jadi yang satu kaya, dan yang lain miskin. Si A berpartai merah, B pengikut partai hijau. Perbedaan menjadi kekayaan sebuah persabahatan saat tidak disikapi dengan menggunakan asas manfaat, tapi kasih semata dari dua belah pihak.

Kasih dalam persahabatan, pertama kali, diperkenalkan oleh Allah sendiri dalam rupa Yesus Kristus. Penatua Daniel Bani Winni Emma mengatakan, Allah jelas berbeda dengan manusia. Tetapi alih-alih membangun tembok, Allah justru berinisiatif untuk membangun jembatan. Jembatan yang menghubungkan antara Surga dan Bumi, yang terpisah karena dosa. Perbedaan antara Allah dan manusia tidak membatasi-Nya untuk menjalin relasi dengan manusia. Bahkan sebagai bukti otentik kasih Allah, sepanjang masa pelayanan-Nya di bumi, Yesus menawarkan diri menjadi seorang Sahabat buat manusia. Yesus memberi teladan dengan rela mengorbankan nyawa-Nya buat semua manusia, yang Dia sebut sebagai Sahabat. Manusia, bukan yang Kristen atau yang berkulit putih saja, bukan pula yang kaya ataupun yang pintar saja. Menjadi sahabat tanpa tujuan memanfaatkan, tapi justru mengorbankan diri buat sesama.

Bagaimana dengan Anda?

(Dimuat di Majalah Sahabat Vol.1 Februari 2017)

%d bloggers like this: