Mengerjakan Keselamatan

Oleh: Tohom Tumpal Marison Pardede

 “Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri.” (Efesus 2: 8- 9)

 

Ekosistem Selamat

Entah dengan nada lembut dan keras, dalam getaran, diam dan keheningan, setiap manusia menebarkan ‘selamat’ kepada sesamanya. Ini telah menjadi viral dan tak pernah berhenti. Tidak seorang pun yang tidak mengatakannya, dan tidak seorang pun yang tidak menerimanya. Setiap manusia saling memberi dan menerima, seakan mendobrak setiap penghalang, baik jarak maupun waktu. Dia (kata “selamat”-Red) hadir sebagai pembuka dan juga setiap penutup sapaan. Dia pun hadir tidak hanya dalam ritual ibadah, spiritual personal, tetapi juga dalam kekinian dan aktual.

Tebaran selamat itu entah tanpa sadar, karena sudah menjadi kebiasaan atau dalam kesadaran penuh telah menjadi sapaan yang sering terlewat begitu saja. Padahal itu adalah doa yang paling sering terucap dari batin manusia.  Sebagai doa, ucapan selamat acapkali disambut dengan diam tak berbalas, sering juga dibalas tanpa selamat, sehingga selamat itu menjadi terkurung dalam ruang waktu (contoh: “Pagi…” dan bukan “selamat pagi”), dan tidak sedikit juga yang berbalas selamat. Tanpa bermaksud remeh terhadap lembar putih, letak guratan kata ‘selamat’ ini, tentunya harus disebutkan sebanyak mungkin ungkapan, nada, irama, lagu, frasa dan kalimat ‘selamat’: “Selamat pagi”, “Selamat siang”, “Selamat sore”, “Selamat malam”, “Selamat bekerja”, “Selamat melayani”, “Selamat belajar”, “Selamat ulang tahun”, “Happy birthday”, “hbd”, “Happy anniversary”, “Good morning”, “Good afternoon”, “Good night”, “Syaloom”,  “Shalom bang”, “Selamat hari Minggu”, “God bless you always”, “GBU: God Bless You”, “Tuhan Yesus memberkati”, Terima kasih pak”, “Salam”, “Horas”, “Salam dalam kasih Tuhan Yesus”, “semoga sehat sukses bahagia”, “Selamat berbahagia”, “Selamat ultah”, “Met millad yah“ (Selamat ulang tahun ya), “Barakallah fii umrik” (artinya: “semoga mendapatkan berkah dari Allah dalam usiamu” atau “semoga diberkahi Allah di usiamu saat ini”), “Syafakillah” atau “Syafakallah” (artinya: cepat sembuh ya), “Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh” atau “Assalamu’alaikum, dan lain sebagainya. Semua ungkapan ‘selamat’ ini sesungguhnya sedang menyampaikan pesan baik kepada pengirim maupun penerima pesan, agar selamat, atau memperoleh keselamatan.

Ekosistem tempat manusia dan sesama ciptaan, baik manusia dan alam semesta, sedang memproklamasikan bahwa selamat dan keselamatan adalah milik atau kebutuhan semua ciptaan, tak terkecuali. Ekosistem tempat terjalinnya hubungan antarmanusia. Di zaman now, semua manusia diberi kesempatan untuk menghadirkan aura dan lingkungan yang menyelamatkan, sekalipun di sisi lain bisa menghadirkan yang sebaliknya. Ekosistem selamat ini perlu terus dihidupi, ditumbuhkembangkan dan dirayakan bukan hanya dalam bingkai layar fana, bingkai dogma dan doktrin, tetapi juga dalam bingkai interaksi hidup bersama seluruh ciptaan, khususnya manusia.

Keselamatan

Sapaan, baik dengan salam, syalom, selamat dan assalamu’alaikum ternyata berasal dari tiga tradisi yang berbeda. Syalom adalah kata Ibrani, berasal dari tradisi Yahudi. Salam dan assalamu’alaikum adalah bahasa Arab, dari tradisi Islam dan selamat, bahasa Indonesia; di sini mewakili tradisi Kristiani.[1] “Salam” yang berasal dari bahasa Arab, berarti damai, sejahtera, terutama dipakai sebagai pernyataan hormat. Sekalipun berasal dari tiga tradisi yang berbeda, tetapi semuanya bersangkut paut dengan kata ‘keselamatan’. Kata “keselamatan” pun berasal dari kata “salam”, artinya kesejahteraan, kebahagiaan. Kata “selamat” sendiri artinya ada dua. Arti negatif, terhindar dari bencana dan arti positif, aman sentosa, sehat, beruntung, tetapi selalu dengan pikiran “tidak mendapat gangguan”, “tidak gagal”, “tidak kurang apa-apa”.[2] Dalam KBBI, selamat diartikan sebagai doa (ucapan, pernyataan, dsb.) yang mengandung harapan supaya sejahtera (beruntung, tidak kurang suatu apa, dsb.); pemberian salam mudah-mudahan dalam keadaan baik (sejahtera, sehat dan afiat, dsb.).[3]

Mendalami arti keselamatan secara umum, tidak lepas dari pemahaman mendalam akan arti soteria dan arti syalom itu sendiri. Arti soteria adalah membebaskan, memerdekakan, memelihara, menjaga dan menyelamatkan, dengan kata dasar sozo, yang artinya menyelamatkan, menyembuhkan, memelihara dan melindungi.[4] Sementara syalom artinya sejahtera, damai sejahtera, aman sentosa. Dalam hubungan dengan perang artinya damai atau bukan perang atau tidak ada perang. Juga diartikan “selamat”, “tenteram”, “puas-senang”, yang lebih menyatakan pengalaman batin secara pribadi. Dalam bingkai sosial atau hubungan antarmanusia, syalom dapat diartikan “ramah”, “hubungan baik”, “persahabatan”, “sahabat-karib”. Juga dapat diartikan menguatkan dan mengingatkan orang lain, seperti “Jangan takut”, “Jangan kuatir.[5] Singkatnya, syalom berarti keadaan yang baik, mungkin tidak ideal tetapi bahagia, tanpa gangguan, tanpa rasa takut, tanpa pikiran macam-macam.[6]

Dalam hubungannya dengan karya Tuhan Allah di dalam Yesus Kristus, pertama-tama, syalom lahir dan bersumber dari Allah. Gideon mengatakan bahwa TUHAN itu syalom, TUHAN itu keselamatan (Hakim-hakim 6: 24). Mikha menubuatkan bahwa dia menjadi syalom/damai sejahtera (Mikha 5: 4). Yang kedua kehidupan Kristus, dari kelahiran sampai kebangkitan adalah syalom. Kristus menjadi tokoh sentral[7] dari syalom Allah. Yang ketiga, dalam syalom tekanan ada pada hubungan mesra dengan Allah, yang menanggung kesejahteraan dengan sepenuh-penuhnya.[8] Syalom adalah karya Allah, yang nyata sebagai misteri dalam hidup manusia.[9] Tiga hal ini mengingatkan kita pada beberapa teks Alkitab, di antaranya Yohanes 3: 17, “…untuk menyelamatkannya oleh Dia”; Kisah Para Rasul 4: 12, “Dan keselamatan tidak ada di dalam siapa pun juga selain di dalam Dia…”; Kisah Para Rasul 28: 28, “…bahwa keselamatan yang dari pada Allah ini disampaikan kepada bangsa-bangsa lain dan mereka akan mendengarnya. “Roma 10: 13, “…barangsiapa yang berseru kepada nama Tuhan, akan diselamatkan”, Efesus 2: 8, “Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah.”

Mengerjakan Keselamata

Memahami pengertian tersebut, maka keselamatan di dalam iman kita bersumber dari Allah di dalam, melalui, dan oleh Yesus Kristus. Tidak ada kekuatan dan kemampuan manusia untuk sampai ke sana tanpa kasih karunia Tuhan. Alasan kasih karunia inilah yang mendorong manusia untuk mensyukuri keselamatan yang diterimanya dengan cara mengerjakan keselamatan itu sendiri.  Cara sederhana mengerjakan keselamatan yang dari Tuhan itu adalah memberitakan dan menceritakan keselamatan itu sendiri. Jika kita meyakini bahwa keselamatan yang kita peroleh dari Tuhan itu membuat kita damai sejahtera, tunjukkan damai sejahtera itu kepada dunia di sekitar kita. Damai sejahtera itu memungkinkan kita berelasi dengan sesama manusia tanpa sekat dan batas.

Kehadiran kita adalah kehadiran syalom ilahi. Beritakanlah syalom Tuhan itu dengan syalom kita sendiri. Kebutuhan berdamai dengan sesama manusia adalah syalom yang paling dirindukan semua orang. Kepelbagaian manusia seringkali dianggap sebagi resistansi bagi syalom Tuhan di muka bumi, tetapi justru kepelbagaian manusia harus dapat dijadikan panggung syalom Tuhan dirayakan. Perjumpaan antarmanusia, yang sangat berbeda sekalipun, tidak menjadi alasan untuk syalom Tuhan tidak dapat dirasakan. Jika masing-masing manusia merasakan syalom Tuhan sekalipun dalam keyakinan yang berbeda, perjumpaan antarmanusia dengan sendirinya menjadi syalom.

Namun ada saja resistansi yang sangat kuat dalam memberitakan dan menceritakan keselamatan atau syalom itu, yang datangnya dari diri sendiri. Salah satunya mewujudkan nasihat-nasihat Firman Tuhan dan menganjurkan agar setiap orang senantiasa menolong sesamanya pada jalur keselamatan, yaitu jika orang tersebut melakukan kesalahan. Saat kita tahu bahwa saudara kita melakukan kesalahan atau dalam bahasa Galatia 6: 1, “.., kalaupun seorang kedapatan melakukan suatu pelanggaran, maka kamu yang rohani, harus memimpin orang itu ke jalan yang benar dalam roh lemah lembut,…” Dalam Matius 18: 15 disebutkan, “Apabila saudaramu berbuat dosa tegorlah dia di bawah empat mata. Jika ia mendengarkan nasihatmu engkau telah mendapatnya kembali.” Lebih tegas lagi dalam Yehezkiel 33: 8- 9, “…Hai orang jahat, engkau pasti mati! – dan engkau tidak berkata apa-apa untuk memperingatkan orang jahat itu supaya bertobat dari hidupnya, orang jahat itu akan mati dalam kesalahannya, tetapi Aku akan menuntut pertanggungan jawab atas nyawanya dari padamu. Tetapi jikalau engkau memperingatkan orang jahat itu supaya ia bertobat dari hidupnya, tetapi ia tidak mau bertobat, ia akan mati dalam kesalahannya, tetapi engkau telah menyelamatkan nyawamu.”

Dari tiga teks Alkitab tersebut, menghadirkan keselamatan atau syalom bagi sesama manusia, juga adalah itikad baik manusia bagi sesamanya, agar sesamanya tetap berada di jalur keselamatan. Itikad yang demikian tidak hanya melalui tindakan nyata, tetapi juga harus menjadi doa setiap orang beriman, agar semua orang memperoleh keselamatan. Menginginkan keselamatan orang lain dalam doa telah diteladankan oleh Abraham, saat mendoakan Sodom dalam Kejadian 18: 16- 33. Sekalipun pada akhirnya doa itu tidak dikabulkan Tuhan, tetapi upaya Abraham berdoa memohon pengampunan adalah bukti bahwa Abraham menginginkan keselamatan banyak orang atau paling tidak keselamatan keluarga saudaranya. Juga diteladankan Yunus, sekalipun pada awalnya Yunus menolak dan lari dari perintah Tuhan untuk menyampaikan berita pertobatan agar Niniwe selamat, tetapi pada akhirnya Yunus berhasil memberitakan dan Niniwe mengalami pertobatan dan itu berarti keselamatan bagi Niniwe. Peran Yunus adalah sebagai mitra Tuhan untuk menyampaikan berita pertobatan dan sekaligus berita keselamatan.

Dari dua tokoh tersebut, kita belajar bahwa Tuhan menginginkan dan mengerjakan keselamatan bagi seluruh umat manusia. Abraham, Yunus dan kita adalah mitra Tuhan untuk menyampaikan berita keselamatan, berita syalom, kabar sukacita (injil) kepada semua orang. Hati Tuhan yang penuh dengan cinta dan belas kasihan telah memungkinkan kita mampu mengerjakan keselamatan itu. Baik dengan maksud memelihara keselamatan yang kita peroleh sebagai anugerah, maupun dengan maksud mengerjakan, memberitakan dan menjadi mitra Tuhan dalam mewujudkan keselamatan yang bersumber dari-Nya.

Dalam lingkup relasi yang paling kecil, yaitu keluarga, Ayub sangat pantas untuk diteladani. Ayub senantiasa melakukan pengudusan dalam doa-doanya agar seisi rumahnya terselamatkan dan diselamatkan. Ayub setiap pagi, tidak pernah bolong, selalu mendoakan dan menguduskan isteri dan anak-anaknya. Tentu bagi kita sekarang, sikap iman mengerjakan keselamatan ini, dapat dilakukan bukan hanya oleh suami atau ayah, tetapi juga oleh setiap orang yang menjadi bagian dari sebuah keluarga, isteri atau ibu, orangtua atau anak, kakak atau adik, mertua atau menantu. Jika setiap keluarga melakukan ini, maka keselamatan, damai sejahtera dan syalom tidak hanya bergaung di rumah tangga setiap keluarga, tetapi juga pada setiap perjumpaan antarmanusia.

Panglima Polim I/51-A, 29 November 2017

 

[1] Jacobs, Tom, Syalom, Salam, Selamat, Penerbit Kanisius, Yogyakarta, 2007, hlm. 3.

[2] Band., Jacobs, ibid., hlm. 9.

[3] KBBI, Balai Pustaka, Jakarta, 1995, hlm. 895.

[4] http://biblehub.com/greek/4982.htm

[5] Jacobs, op.cit., hlm. 32.

[6] Ibid., hlm. 33- 34.

[7] Ibid., hlm. 39.

[8] Ibid., hlm. 40.

[9] Ibid., hlm. 45.

(Dimuat di Majalah Sahabat Vol.3 November 2017)

%d bloggers like this: