Menakar Pertumbuhan Gereja, Siapkah Kita?

Naskah: Benjamin Simatupang Penyelaras: Nitya Laksmiwati

Panjang sebuah buku bisa diukur dengan penggaris. Kedalaman laut bisa diukur menggunakan gelombang sonar. Tinggi sebuah lemari juga bisa diketahui dengan menggunakan meteran. Bagaimana mengukur pertumbuhan gereja? Bisakah?

Melakukan pengukuran terhadap sebuah kinerja, efektivitas suatu program, sering dilupakan, bahkan dianggap tidak penting. Padahal, dengan mengetahui sebuah nilai kuantitatif , kita dapat mengolah, memanfaatkan, dan mengambil keputusan tepat untuk mencapai tujuan tertentu.  Saat sesuatu tidak bisa diukur, jangan harap bisa mengelolanya dengan baik. Peter Drucker, pakar manajemen mengatakan: “you can’t manage what you can’t measure.” 

Pada tahun 2005, penerbit Kairos membukukan lima khotbah almarhum Pendeta Eka Darmaputera dalam sebuah buku tipis berjudul “Gereja Harus Bertumbuh”. Sub-judulnya cukup provokatif: “Menggugat dan menggugah gereja dan kehidupan bergereja kita yang kian mekanistis dan kehilangan makna.”

Bagaimana mengukur pertumbuhan gereja? Apa saja yang perlu diukur? Penambahan luas bangunan? Kenaikan jumlah jemaat? Peningkatan jumlah uang kolekte yang terkumpul? Jika sekedar mengukur hal-hal tersebut, tentu bukanlah hal yang sukar.

Apakah suatu gereja yang memiliki banyak jemaat melaksanakan tugas panggilan dan misi Allah di dalam dunia? Hans Kung dalam bukunya, “The Church” dan “Theologi Kaum Awam” oleh DR. Kraemer menyatakan dengan gamblang, bahwa gereja adalah menjadi gereja, bila yang menjadi pusat pelayanannya adalah dunia ini, bukan dirinya sendiri. Lalu bagaimana sebuah gereja mengetahui bahwa dirinya telah menjadikan dunia ini sebagai fokus pelayanannya? Pertanyaan-pertanyaan tersebut perlu kita perlu kita telisik lebih lanjut sebagai sebuah gereja yang tahun ini berusia 55 tahun.

 

Mengutip tulisan Pendeta Titus Gunawan H yang berjudul: “Melakukan Kehendak dan Menyelesaikan Pekerjaan-Nya” (kumpulan tulisan para pendeta GKI KB, tahun 2012), melontarkan pertanyaan tajam: Apakah seluruh persekutuan, kesaksian dan diakonia GKI KB sungguh-sungguh dijiwai dan merupakan wujud dari persejutuan solidaritas Allah terhadap manusia yang menderita karena dosa? Apakah  banyaknya aktivitas dengan dana dan daya yang besar, sudah seturut dengan kehendak Tuhan dan bukan berpusat dari dan untuk diri kita sendiri?

Dari berbagai literatur, tak banyak yang mengangkat tema pertumbuhan gereja dalam memberikan panduan kuantitatif.  Penulis menemukan satu buku tipis dari penerbit Gandum Mas, berjudul “Rasio Pertumbuhan Gereja – Bagaimana Menjadikan Suatu Gereja Hidup, Sehat, Bertumbuh, dan Penuh dengan Kasih.” Dr. Win Arn, sang pengarang buku, menyebutkan dirinya sebagai konsultan pertumbuhan gereja, dan menyatakan bahwa rasio yang didaftarkan dalam buku tersebut berdasarkan pada penelitian.

Secara garis besar, terdapat 25 rasio yang dapat digunakan untuk mengukur pertumbuhan gereja.  Ke-25 rasio tersebut dibagi dalam 5 kelompok besar, yaitu:

  1. Rasio Administrasi dan Organisasi
  2. Rasio Asimilasi Efektif
  3. Rasio Perkembangan Hidup Rohani
  4. Rasio Pertumbuhan dan Penginjilan, dan
  5. Rasio Pengajaran dan Sekolah M

Sebagai contoh, dalam rasio Administrasi dan Organisasi, rasio pengurus gereja yang ideal adalah 1:5. Artinya, 1 dari setiap 5 pengurus gereja hendaknya merupakan anggota gereja yang baru masuk dalam dua tahun terakhir.  Contoh lain, dalam rasio Asimilasi Efektif terdapat rasio kelompok kecil dengan angka 7:100. Artinya, gereja harus memiliki paling sedikit 7 kelompok kecil untuk setiap 100 anggota.  Salah satu rasio Pertumbuhan dan Penginjilan, ialah rasio pertobatan / baptisan dewasa, dengan rasio 1:2. Artinya, 1 dari setiap 2 orang yang dibaptis dewasa merupakan petobat baru.

Rasio yang mengemuka, sangat menarik. Hasilnya jelas kuantitatif atau terukur. Jika kita perhatikan secara umum, rasio tersebut fokus pada unsur-unsur organisasi.  Kualitas rohani jemaat tidak termasuk dalam rasio-rasio dalam buku itu. Sebagaimana yang kerap terjadi, nilai kuantitatif yang bagus tidak otomatis mengindikasikan kualitas yang baik.  Lalu, bagaimana mengukur kualitas pertumbuhan sebuah gereja?

Berkat berselancar di Google, saya menemukan sebuah disertasi yang ditulis oleh Fred Hayes Smith dari Fuller Theological Seminary (1985). Disertasi dengan judul “Measuring Quality Church Growth” dapat diunduh gratis. Smith berpendapat bahwa spiritualitas jemaat adalah landasan yang vital (“indispensable foundation”) bagi pertumbuhan gereja, dan akan termanifestasi dalam kebiasaan, emosi, perilaku, dan kepercayaan.

Lebih lanjut, Smith membuat alat (tools) untuk mengukur spiritualitas melalui “Spiritual Life Survey (SLS).” Ada 60 pertanyaan dalam survey tersebut dan para responden diminta untuk menjawabnya. Responden akan dinilai partisipasinya dalam 12 area yang mengacu kepada nilai-nilai alkitabiah.

Ke-12 area tersebut adalah:

  1. Worship
  2. Personal Devotions
  3. Giving
  4. Lay Ministry
  5. Bible Knowledge
  6. Missions
  7. Fellowship
  8. Witnessing
  9. Attitude towards Religion
  10. Distinctive Life-style
  11. Service, dan
  12. Social Justice

Bagaimana dengan GKI KB? Tertarik melakukan survey tersebut untuk mengukur pertumbuhan gereja?

(Dimuat di Majalah Sahabat Vol.1 Februari 2017)