Layak Diperjuangkan

Oleh: Poltak Edison Hutahuruk

“Perselisihan, pertengkaran, dan buruk sangka adalah bibit potensial untuk menjadi konflik. Konflik bila tak ditangani sejak dini dan dikelola dengan baik, bisa menjadi krisis. Pahami akar permasalahan dan jalin komunikasi yang sehat dengan sesama”

Pada bagian akhir film Wonder Woman, ketika Diana ‘Wonder Woman’ bertempur dengan Ares, Dewa Perang, Ares berkata: “Manusia itu lemah, jahat, dan korup sehingga harus dimusnahkan dari bumi.” Tentu saja Diana tidak setuju, dan menyatakan bahwa manusia layak diperjuangkan. Memang kenyataannya manusia adalah makhluk yang sangat rumit, bahkan hubungan antarmanusia pun sulit untuk dipelihara.

Alkitab mencatat bahwa Rasul Paulus berbeda pendapat dengan Rasul Petrus, keduanya adalah Rasul Allah. Di surat Filipi, Paulus mendapati adanya perpecahan di antara Eudia dan Sintikhe, rekan sekerja Paulus dalam memberitakan Injil (dan namanya tercantum dalam kitab kehidupan). Rasa-rasanya sungguh naif bila kita berharap bahwa hubungan antarmanusia di jaman ini akan berjalan dengan baik-baik saja. Tak hanya di tengah masyarakat, di tempat kerja, bahkan di gereja, saat berinteraksi atau bekerjasama dengan rekan sepelayanan. Bagaimana menghadapi bila terjadi perselisihan? Langkah apa saja yang harus diambil dalam situasi? Perselisihan, pertengkaran, dan buruk sangka adalah bibit potensial untuk menjadi konflik. Konflik bila tak ditangani sejak dini dan dikelola dengan baik, bisa menjadi krisis.  Pahami akar permasalahan dan jalin komunikasi yang sehat dengan sesama. Masalah-masalah kecil, misalnya berhalangan hadir dalam suatu rapat, tugas kepanitian yang terlambat dan tidak dikerjakan, atau cara berbicara seseorang yang tidak sesuai dengan selera kita. Bila permasalahan yang timbul tidak segera diselesaikan, bisa jadi merembet ke masalah lain. Ingat! Alkitab tidak menganjurkan kita keluar dari masyarakat lalu hidup sendiri, hanya untuk menghindari konflik. Bahkan kita mempunyai panggilan khusus untuk ‘menggarami’ dan ‘menerangi’ lingkungan kita. Salah satu bagian Alkitab yang menyoroti hal ini bisa kita baca di Kolose 3:5-17. Sebagai orang-orang pilihan Allah, kita diminta untuk mengenakan perlengkapan ‘super hero’ kita agar menang dalam ‘pertempuran’ konflik, yakni: belas kasihan, kemurahan, kerendahan hati, kelemahlembutan, dan kesabaran.  Jadi, kita harus sabar dan mengenakan kasih dalam pergaulan kita sesuai teladan Allah. Belas kasih, murah hati, rendah hati, lemah lembut, dan sabar adalah cerminan sikap positif yang harus dipelajari dan dikembangkan sendiri dalam kehidupan sehari-hari. Jika diperhatikan, maka bagian ini menunjukkan adanya peran Allah: memilih dan melengkapi, dan peran manusia: menumbuhkan dan mengaplikasikannya. Untuk memiliki sikap-sikap tersebut, berdoalah dan minta kepada Tuhan agar kita mampu mengasihi sesama manusia secara paripurna. Mintalah kepada Allah untuk mengubah persepsi kita lebih dahulu (Roma 12:2), lalu kita minta kekuatan dari Allah untuk belajar sikap-sikap seperti yang disebutkan Paulus di atas tadi. Belajar sabar tanpa mengetahui mengapa kita harus sabar adalah awal dan pondasi dari perubahan sikap kita selanjutnya.

kita harus sabar dan mengenakan kasih dalam pergaulan kita sesuai teladan Allah

Franz Magnis-Suseno SJ, dalam b ukunya Etika Dasar *), menawarkan tiga prinsip moral dasar dalam hubungan antarmanusia:

  1. Prinsip Sikap Baik: sebisa mungkin kita mengusahakan akibat-akibat baik dari perbuatan kita dan sedapat-dapatnya mencegah akibat-akibat buruk dari tindakan kita
  2. Prinsip Keadilan: untuk melakukan tindakan baik seperti di nomor satu, kita tidak boleh melakukannya dengan melanggar aturan yang ada. Contohnya untuk menyalurkan derma, kita tidak diperbolehkan mencuri, bahkan mencuri dari orang sangat kaya sekalipun, sedangkan barang yang diambil mungkin tidak dirasakan artinya bagi orang kaya itu. Keadilan menuntut kita jangan mau mencapai tujuan-tujuan, termasuk yang baik, dengan melanggar hak orang lain
  3. Prinsip hormat terhadap diri sendiri: Pikirkan kesejahteraan diri kita sedemikian rupa, tanpa menghilangkan keharusan untuk menjadi berkat bagi sesama. Kita tidak dapat mencintai sesama, jika kita tidak mencintai diri sendiri. Seorang rekan kerja saya, suka mengingatkan hashtag #janganlupabahagia.

Tiga prinsip tersebut dapat dipakai untuk mengukur suatu tindakan yang akan kita ambil. Tanyakanlah: apa tindakan itu baik? Apa tindakan itu adil? Apa tindakan itu menghormati diri kita sendiri?

Dalam berbagai kesempatan, kita sering diingatkan untuk: sehati, sepikir, dalam satu kasih, satu jiwa, dan satu tujuan. “Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus (Filipi 2:2 & 5)”. Ayat ini mengingatkan kita untuk bersama-sama berjalan ke arah Tuhan.

Pernah mendengar perumpamaan tentang segitiga? Jarak kita dengan orang lain akan makin dekat, jika kita dan orang lain sama-sama mendekat kepada Tuhan. Kita berharap pertumbuhan iman kita, mampu mendekatkan kita dengan sesama anak Tuhan.

Beberapa nasehat bijak, antara lain: ‘Kamu tidak bisa mengendalikan apa yang dipikirkan atau diperbuat orang lain kepada kamu, tetapi kamu bisa mengendalikan reaksi yang akan kamu berikan terhadap dia. Ingatlah pula bahwa: ‘Beberapa kesalahpahaman bisa diselesaikan di dunia ini, tetapi ada yang butuh waktu lebih lama lagi, sehingga kita bisa menyelesaikannya bersama-sama di rumah Bapa di surga.

Hubungan antarmanusia, terlebih lagi antar sesama anak Tuhan, sungguh layak untuk diperjuangkan, seperti kata Diana si Wonder Woman.

*) Frans Magnis-Suseno, Etika Dasar, Penerbit Kanisius, Yogyakarta, 1987, halaman 129 – 135.

(Dimuat di Majalah Sahabat Vol.2 Mei 2017)

%d bloggers like this: