Keselamatan Buat Semua

…saya juga jemaat (gereja) di situ…

Oleh: Yancen Piris
Penyelaras Akhir: Nitya Laksmiwati

Waktu menunjukkan pukul 9 malam. Ku susuri jalanan yang sejajar dengan kali dan rel kereta api. Terdengan alunan musik dangdut dan house music cover version yang kian menghangatkan temaramnya malam. Nampak beberapa wanita belia dan setengah baya, berdandan sederhana. Mereka bersandar di pinggiran, dan menjajakan diri. Helai kain tipis yang menempel di tubuh, dimainkan oleh nakalnya angin yang sedikit mempertontonkan bagian tubuhnya. Senyum simpul tersungging manis mengiringi sapaan ramah kepada para pria yang melintas di jalanan tersebut. Tak jarang, wanita itu menghampiri pria yang sengaja memperlambat laju kendaraannya.

Menyusuri kawasan yang terkenal sebagai area jual-beli seks dari para wanita pekerja seks komersial (PSK) kepada para lelaki hidung belang, memang cukup menantang. Kawasan yang sejatinya menjadi taman kota dengan taburan lampu penerangan jalan di pinggir sungai besar itu, telah menjelma lokalisasi liar. Suara dentuman musik.melalui sejumlah speaker, turut menyamarkan transaksi jual beli para pencari kenikmatan semu, dalam gumulan peluk sang kupu-kupu malam.

Adalah Shinta, bukan nama sebenarnya, ramah menyapaku.

“Mau ke mana, mas?”
“Baru ada acara di situ tadi…”, ujarku singkat sambil menunjuk ke arah sebuah bangunan gereja yang ada di kawasan tersebut.

“Oooh, mas jemaat di situ ya…?”
“Tidak. Saya hanya mengantar dan menemani teman saja. Kenapa?”
Uhm… tidak apa-apa kok, saya juga jemaat (gereja) di situ…”, akunya diiringi senyum.

Naluri kewartawanan saya pun bergolak. Seolah ada yang mendorongku untuk mengenal Shinta lebih jauh. Lalu perbincangan kami pun berlanjut di sebuah warung mi instan.

Shinta, satu dari sekian banyak perempuan malam yang ada di daerah itu, memiliki alasan klasik, mengapa harus berkubang dengan dosa tuntutan ekonomi keluarga! Alasan itu pula lah yang menjadi alasan utama para PSK di tempat itu.

Tapi ada juga mas, yang memang ingin sekadar hidup mewah,… kemarin ada teman saya yang dijadikan istri simpanan,” imbuh Shinta.

Selanjutnya kisah pun bergulir hingga saya menanyakan tentang eksistensi Shinta di gereja.

Sudah jarang mas, karena kalau malam minggu saya pasti sampai subuh, yaa paling ke gereja kalo pas Natal dan Paskah saja. Tapi sejak tahun lalu saya tak hadir sama sekali mas….” ujar Shinta sambil rada dengan kepala agak tertunduk.

Ya, cerita Shinta, ia merasa tercela dan terhina saat hadir pada perayaan Natal di gereja. Saat itu, ia benar-benar tertusuk nuraninya oleh khotbah pendeta tamu. Sorotan mata dari para pengerja di sana pun serasa menghujam ulu hatinya. Shinta merasa tak pantas hadir di komunitas yang dia sebut “suci” tersebut.

Miris mendengar pengakuan Shinta. Terharu menyimak kisahnya, dan pun menangis lirih.

Saya ini sudah hancur mas, jangankan Yesus, orang-orang di gereja saya pun jijik melihat saya….” ujar wanita berusia 27 tahun itu.

“Mbak Shinta, mau tahu kebenaran yang sejati? Mau tahu nggak, sebenarnya Yesus itu seperti apa…?” tanyaku memberanikan diri.

Saya pun bercerita tentang Yesus yang hadir ke dalam dunia untuk semua manusia, tanpa terkecuali Shinta. Saya bagikan ‘Pericope de Adultera’ yang tertulis dalam kitab Yohanes 7:53-8:11. Bukan menggurui, tapi saya biarkan Shinta membaca dari smartphone saya.

Usai membaca, bukannya berhenti menangis, perempuan itu kian lebur dalam tangis hingga bibirnya kelu. Hanya satu kata yang dia ucap sambil tertunduk dalam: “Yesus….

Saya biarkan Shinta larut dalam momen pribadinya: berperkara dengan Yesus! Saya yakin saat dia membaca Firman Tuhan, Roh Kudus bekerja kuat di dalamnya.

Malam itu menjadi malam yang takkan pernah saya lupakan. Sebagai pengikut Kristus, kita masih punya banyak PR, menjangkau orang-orang di sekitar kita. Betapa ternyata kita, masih tak peduli terhadap orang-orang seperti Shinta. Betapa kita masih mendekap eksklusif ‘keselamatan’ hanya buat diri sendiri. Padahal, keselamatan itu sejatinya dikumandangkan kapan pun dan dimana pun kita berada, sehingga orang-orang seperti Shinta, tak lagi punya image yang salah soal Yesus dan mereka pula mendapatkan keselamatan

Lama sudah sejak kejadian itu, saya kembali mengantar rekan untuk pelayanan di gereja itu. Tak kuasa saya menahan tetes air mata haru, saat menatap sosok yang tak asing: Shinta. Dulu kau bersandar di warung dan menyapaku di keremangan malam. Kini kau berdiri di depan pintu gereja dan ramah menyapa setiap jemaat yang hadir, termasuk saya.

“Terima kasih, Tuhan…satu jiwa yang hilang telah kembali kepada-Mu.”
“Terima kasih Yesus.” ujar saya lirih.


(Dimuat di Majalah Sahabat Vol.3 November 2017)

%d bloggers like this: