Kekuatan Memaafkan

Oleh: Pdt. Tohom Tumpal Marison Pardede

“Memaafkan adalah pekerjaan cinta terberat, dan risiko cinta terbesar. Memaafkan adalah kekuatan cinta untuk memecahkan aturan alam.”

(Lewis B. Smedes)

 

Memaafkan dan Mengampuni

Kata memaafkan berarti memberi ampun atas kesalahan dan sebagainya; atau tidak menganggap salah dan sebagainya lagi. Berasal dari kata dasar maaf yang berarti pembebasan seseorang dari hukuman (tuntutan, denda, dan sebagainya) karena suatu kesalahan; atau berarti ampun. Sementara kata mengampuni berarti memberi ampun; dan memaafkan. Berasal dari kata dasar ampun yang berarti pembebasan dari tuntutan karena melakukan kesalahan atau kekeliruan; atau berarti maaf.  Definisi yang disampaikan Kamus Besar Bahasa Indonesia menunjukkan bahwa kata memaafkan dan mengampuni adalah sinonim.

Ada baiknya juga jika mengetahui dan memperhatikan arti kata ‘memaafkan’ dalam Alkitab. Dalam Alkitab Terjemahan Baru hanya dua ayat yang menggunakan kata memaafkan, yaitu Amsal 19:11, “Akal budi membuat seseorang panjang sabar dan orang itu dipuji karena memaafkan pelanggaran” dan Mikha 7:18, “Siapakah Allah seperti Engkau yang mengampuni dosa, dan yang memaafkan pelanggaran dari sisa-sisa milik-Nya sendiri; yang tidak bertahan dalam murka-Nya untuk seterusnya, melainkan berkenan kepada kasih setia?” Kata memaafkan dalam Amsal diterjemahkan dari kata abor, dengan kata dasar abar yang artinya menjauhkan. Lalu dalam Mikha diterjemahkan dari kata nose dari kata nasa yang artinya mengangkat, membawa dan mengambil.  Jadi frasa ‘memaafkan pelanggaran’ dapat diartikan dengan bahwa pelanggaran seseorang itu dijauhkan, diangkat, dibawa dan diambil oleh pemberi maaf.  Dapat juga dikatakan bahwa memaafkan di sini adalah upaya mengambil alih pelanggaran seseorang, sehingga si pelanggar bebas dari pelanggarannya, dari kesalahannya atau dari hukuman yang harus diterimanya, sehingga melepaskan si pelanggar.

Semangat ‘memaafkan’ sesungguhnya senada dengan beberapa kata dalam Alkitab Terjemahan Baru, yaitu pertama kata ‘mengampuni’ yang digunakan sebanyak 64 kali.  Kata Ibrani salach, kata Yunani aphiemi, aphesis, paresis, charizomai diartikan dengan mengampuni. Salach berarti mengampuni. Aphiemi pertama-tama berarti sebuah tindakan sukarela melupakan seseorang atau sesuatu di luar batas hukum atau pengawasan, juga berarti membiarkan pergi, membatalkan, meninggalkan, memaafkan dan mengampuni. Aphesis berarti melupakan, mengampuni, penebusan, pengampunan dan pembatalan, dapat juga berarti melepaskan dan memerdekakan. Paresis berarti membiarkan lewat dan melampaui. Charizomai berarti memperlihatkan rasa belas kasihan, membebaskan, memerdekakan. Kedua kata ‘menebus’ 41 kali dan ketiga kata ‘menghapus (segala) dosa’ sebanyak 11 kali. Salah satu kata Ibrani yang digunakan untuk kata ‘menghapus’ adalah kata machah dalam Yesaya 44: 22, yang diartikan dengan tidak memperlihatkan, menghapus, membatalkan dan melenyapkan.

Kekuatan Memaafkan dan Mengampuni

Mengetahui begitu dalamnya artinya memaafkan dan mengampuni dalam teks Alkitab, dengan sendirinya mengarahkan kita pada kekuatan memaafkan dan mengampuni itu sendiri. Yang pertama kekuatan pada tindakan memaafkan dan mengampuni, yang kedua kekuatan pada yang memberinya, lalu yang ketiga anugerah bagi yang menerimanya. Dalam rupa dan bentuk apa saja kekuatan itu?

Stephen Post dan Jill Neimark menyebutkan:

  1. Memaafkan orang lain lebih meningkatkan kesehatan daripada dimaafkan;
  2. Memaafkan meredakan depresi;
  3. Memaafkan meningkatkan suasana hati dan mengurangi kemarahan;
  4. Memaafkan mengurangi hormon stres dan
  5. Memaafkan menjaga hubungan dekat.

Tetapi kebanyakan orang menyebutkan bahwa bila seseorang diperlakukan semena-mena atau tidak adil, maka sepantasnya bukanlah memaafkan atau mengampuni, melainkan balas dendam. Hal ini menjadi sangat mungkin mempengaruhi banyak orang, terutama yang telah terkontaminasi atau dicemari oleh film-film yang hampir selalu menggambarkan ‘jagoan’ kalah dulu, lalu sang ‘jagoan’ sedikit demi sedikit bangkit dan dengan segala susah dan jerih payahnya membangun kembali kekuatan untuk balas dendam.  Bahkan tanpa sadar penonton, bergembira, saat jagoan pada akhirnya mengalahkan musuh dan membalaskan dendamnya, sekalipun caranya lebih sadis atau tak berperi kemanusiaan. Ada kepuasan tersendiri, saat dendam terbalaskan. Yang lebih berbahaya lagi adalah semacam terbentuknya naluri membalas dalam diri manusia. Kalau kita dilukai orang lain, naluri kita bangkit untuk balas melukainya, kalau bisa lukanya lebih dalam dan lebih parah dari luka yang kita terima. Luka hanya sembuh, jika dendam dituntaskan, bukan memaafkan atau mengampuni, maka luka menjadi sembuh. Obat saat dilukai adalah balas dendam. Dendam itu manis. Dendam itu sehat. Dendam itu keseimbangan batin. Mata dibalas mata, gigi dibalas gigi. Di sinilah tampak bahwa memaafkan dan mengampuni tidak punya kekuatan. Namun perlu disadari, bahwa justru dengan membalas, kita semakin tampak lemah, bahkan semakin tak berdaya. Sebab semakin lama terluka, semakin sulit kita menyembuhkan. Semakin dalam luka tersebut, semakin sulit memaafkan dan mengampuni. Patricia Weenolsen menjelaskan: “Memberi ampun dan memaafkan, menghancurkan identitas kita sebagi korban, dan kematian sebagian dari diri kita selalu sakit rasanya. Itulah salah satu alasan orang yang berpegang teguh pada luka-luka hati dan mengapa sulit untuk memberi ampun.

Lalu dimanakah kekuatan memaafkan dan mengampuni itu? Kekuatan memaafkan dan mengampuni terletak dalam diri kita. Terletak pada kita, bukan pada perlakuan orang lain dan bukan juga pada orang lain. Saat kita memaafkan dan mengampuni, ini bukan soal membiarkan orang lain melukai kita terus- menerus dan menyetujui perbuatan mereka. Juga bukan soal memberi kuasa kepada orang lain untuk mereka semena-mena kepada kita. Ini juga bukan soal kita dianggap lemah, bodoh atau cengeng menanggapi perlakuan tidak menyenangkan orang lain tehadap kita. Tetapi ini lebih kepada apakah kita semakin lebih baik jika kita tidak memberi permaafan dan pengampunan atau balas dendam kepada orang lain?

Saat kita memaafkan dan mengampuni, kita sedang bertumbuh dan berkembang untuk melanjutkan kehidupan, bahkan lebih tepatnya kita sedang memberikan kesempatan pada diri kita sendiri dan orang lain untuk merasakan kebebasan. Saat kita memaafkan dan mengampuni, ini justru hendak menunjukkan bahwa kita lebih kuat, lebih bijak, lebih tangguh dan lebih sehat ketimbang tidak memaafkan dan mengampuni. Francis Bacon mengatakan bahwa seorang yang memaafkan dan mengampuni adalah seorang pangeran, seorang yang mulia, seorang yang terlatih dan seorang yang rela menanggung beban sekaligus berani terluka, seorang yang empati. Tentu dalam pemahaman iman kita, karakter dan sifat ini adalah karakter Tuhan (band. Mazmur 86: 5) yang juga hadir dalam diri Tuhan kita, Yesus Kristus. Ini semakin jelas jika kita mengingat pernyataan ini: “Hanya mereka yang memiliki cukup cinta kasih akan mampu memberikan pengampunan.” Memotret kekuatan memaafkan dan mengampuni mengarahkan kita pada sifat Allah yang seringkali bergandengan dengan kata mengampuni, yaitu kasih setia (Keluaran 34: 7), panjang sabar (Bilangan 14: 18), pengasih dan penyayang (Nehemia 9: 17).  Tentunya setiap orang yang punya kekuatan untuk memaafkan maka paling tidak dalam dirinya bertumbuh sikap panjang sabar dan penyayang bagi orang lain, bagi sesama manusia.

Kekuatan memaafkan ini juga terkandung dalam semangatnya. Yudhistira dalam karya sastra Mahabarata mengatakan: “Memaafkan adalah pengorbanan. Memaafkan adalah adat istiadat kita. Memaafkan adalah kebenaran. Memaafkan adalah penebus dosa, kesucian. Memaafkan menjaga keutuhan dunia. Memaafkan dan kelembutan adalah kebajikan orang yang arif.” Dalam bahasa yang lain Jakob Sumardjo menyebutkan bahwa memberi maaf itu menunjukkan kekuatan dan kemuliaan manusia. Pemberi maaf itu adalah golongan bangsawan hati. Si pengampun itu selalu berada di atas.  Sementara itu Michael McCullough dan Giacomo Bono menyebutkan bahwa pengampunan adalah sisi lain dari bersyukur. Bersyukur adalah sebuah tanggapan positif terhadap keberuntungan”, sementara “pengampunan adalah tanggapan positif terhadap kesulitan.” Mazmur 103, 3, menggandeng kata mengampuni dengan menyembuhkan, maka kekuatan memaafkan dan mengampuni juga adalah menyalurkan kesembuhan bagi yang mengampuni sekaligus bagi yang diampuni. Sementara dalam bahasa Mazmur 32, ada kebahagiaan jika seseorang dimaafkan atau diampuni. Sementara jika tidak dimaafkan atau tidak diampuni tulang-tulang menjadi lesu dan sumsum menjadi kering. Menggabungkan kedua Mazmur itu maka terasalah bahwa memaafkan, dimaafkan, dan mengampuni, diampuni memungkinkan seseorang mengalami pemulihan dan penyembuhan.

Pada akhirnya, sekalipun memaafkan dan mengampuni adalah ajaran baik agama. Sekalipun itu adalah firman yang tak terbantahkan, seperti dalam Efesus 4: 32, berkata: “… hendaklah kamu … saling mengampuni, sebagaimana Allah di dalam Kristus telah mengampuni kamu.” Juga dalam Matius 6: 12, menyebutkan: “…ampunilah kami akan kesalahan kami seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami”, pilihan ada pada kita. Sekalipun orang lain tetap melukai kita, pilihan memaafkan dan mengampuni ada pada kita. Sebab kita tidak mempunyai kuasa atas pilihan orang lain, tetapi atas diri kita, “Ya”.  Kita punya pilihan. Kita yang memegang kendali untuk memaafkan dan mengampuni.

Di sinilah kekuatan besar kita. Saat kita memilih itu, maka Tuhan pun akan menambahkan daya kekuatan itu semakin besar.

Jika kita tidak mengambil pilihan itu, kita hanya memutar ulang terus peristiwa “luka”, dan berulang juga perasaan dengki, marah, cemas, dendam, stres dan depresi yang akhirnya mempengaruhi fisiologis tubuh kita. Kita tidak menjadi tenang secara mental dan spiritual, malah cenderung terganggu seluruh sistem dalam tubuh kita. Setiap sel dalam tubuh tercabik-cabik, lalu mati. Lalu dimana kekuatannya?

Jangan biarkan mati! Pilihlah memaafkan! Pilihlah mengampuni!

Memaafkan dan mengampuni adalah kekuatan yang paling membebaskan dan melegakan. Kekuatan seseorang yang rela membangun jembatan dari satu sisi untuk dapat dilalui, sekalipun yang lain tidak membangun jembatannya dari sisi lainnya. Jika setiap orang rela dan dimampukan oleh Allah memaafkan dan mengampuni, maka jembatan penghubung antarmanusia, tidak akan pernah terputus selamanya, sebab ada dua atau lebih manusia yang selalu sabar dan gigih membangun jembatan permaafan dan jembatan pengampunan.

Selamat berjuang!

Saudara pasti bisa!

Pastori Mertilang, 12 Juni 2017

(Dimuat di Majalah Sahabat Vol.2 Mei 2017)

%d bloggers like this: