Gerbang Gereja Wittenberg

-Saksi Bisu 500 Tahun Gerakan Reformasi-

Oleh: Benjamin Simatupang
Penyelaras Akhir: Nitya Laksmiwati

Dalam salah satu surat yang dikutip dari buku “Di Bawah Bendera Revolusi” jilid pertama, Bung Karno menuliskan:“Kalau orang mau membangunkan perhatian publik, orang musti ambil palu godam yang besar, dan pukulkan palu itu di atas meja sehingga bersuara seperti guntur…Lihatlah cara bekerjanya orang-orang yang hebat…Mereka punya pikiran mereka bantingkan di tengah-tengah khalayak, sehingga mengguntur dan mengguruh! Luther tak pernah setengah-setengahan...”

Siapa Luther yang dimaksud Bung Karno? Dia adalah Martin Luther (1483 – 1546), yang kadang dijuluki “nabi reformasi”.  Di tahun 1994, majalah Time melakukan survei untuk mengetahui siapa saja tokoh yang paling berpengaruh dalam tahun 1000 – 2000.  Di bidang keagamaan muncullah nama Martin Luther dan Fransiskus Asisi.

Luther adalah Doktor dalam Ilmu Alkitab, Dosen di Universitas Wittenberg, Kepala Biara dan Penulis buku-buku tafsir Alkitab.  Dalam posisinya,  Luther adalah pribadi yang gelisah.  Luther terus bergumul dengan Alkitab.  Luther mempertanyakan, ”Sebagai hakim yang memegang kebenaran, tentu Allah adil. Orang berdosa dihukum ke neraka, orang benar masuk surga.  Supaya menjadi orang benar, kita banyak beribadah dan beramal. Akan tetapi, betulkah bahwa Allah bisa dipengaruhi dengan banyaknya ibadah serta amal kita?”

Saat mempelajari kitab Roma, batin Luther seakan dibukakan. Luther membaca: ”...Injil adalah kekuatan Allah yang menyelamatkan setiap orang yang percaya…Sebab di dalamnya dinyatakan pembenaran oleh Alllah, yang bertolak dari iman dan memimpin kepada iman…” (Roma 1:16, 17).  Ayat itu menunjukkan bahwa kebenaran Allah bukan membenarkan orang yang sudah ‘bersih’, melainkan justru membenarkan orang berdosa. Jadi kita memperoleh pengampunan bukan karena perbuatan ibadah dan amal kita, melainkan karena rahmat Allah yang diberikan kepada kita. Rahmat atau anugerah adalah pemberian yang tidak berhak kita terima, namun diberikan kepada kita.

Di pihak lain, Gereja Katolik Roma saat itu melakukan praktik penjualan indulgensi. Indulgensi adalah penghapusan siksa-siksa temporal di depan Allah untuk dosa-dosa yang sudah diampuni. Bila dicermati, gagasan tersebut adalah gagasan hukum Germania: bahwa hukuman badan untuk tindak kejahatan dapat diganti dengan uang atau membayar denda.  Dalam praktiknya, uang dan indulgensi kemudian bercampur aduk., Gagasan itu menjadi bahan penyalahgunaan. Rakyat beranggapan bahwa pembayaran uang akan membereskan dosa mereka di mata Tuhan.

Pengkhotbah indulgensi yang terkenal ialah Yohanes Tetzel, seorang rahib Dominikan. Tetzel adalah penjual ulung dan ahli pertunjukan. Tetzel adalah pengumpul uang yang hebat bagi Roma. Bulan April 1517, Tetzel mendirikan mimbar mencolok di pinggiran kota Wittenberg.

Luther menyesalkan penduduk Wittenberg yang berbondong-bondong menemui Tetzel untuk mencari indulgensi. Pada zaman itu belum ada surat kabar sebagai sarana menyatakan pendapat. Bagi seorang sarjana yang ingin menyampaikan gagasannya, ada kebiasaan untuk memasang gagasan di suatu tempat umum, dan pintu gereja istana merupakan tempat serupa itu di Wittenberg.  Perasaan Luther sangat berkecamuk. Ia meringkas gagasannya tentang indulgensi menjadi 95 tesis.  Tesis-tesis itu ditulis pada selembar poster yang kemudian dipakukan di pintu utara gereja.  Hari itu tanggal 31 Oktober 1517 menjadi sangat bersejarah, karena menjadi awal mula gerakan reformasi gereja. Tahun 2017 menjadi genap 500 tahun peringatan gerakan tersebut.

Beberapa tesis tersebut memuat pernyataan berupa definisi dan pertanyaan. Menurut Luther, orang yang sungguh bertobat, tidak akan merengek meminta hapusnya hukuman dosa, tetapi akan menyambutnya dengan senang hati seperti Kristus dahulu. Baik Paus maupun siapapun, demikian kata Luther, tidaklah berwenang atas api penyucian, maka pemberian indulgensi yang menyatakan pembebasan dari api penyucian tanpa pandang bulu telah menipu orang banyak. Lagi pula, kata Luther, seandainya Paus memiliki kekuasaan semacam itu sebagaimana dinyatakan oleh para pengkhotbah indulgensi, mengapa demi belas kasih Kristiani, Paus tidak segera saja mengosongkan api penyucian? Lalu, dengan kekayaan yang dimiliki Paus, mengapa ia tidak membangun basilika Santo Petrus dengan isi kantungnga sendiri, bukan dengan memeras orang miskin?

Orang banyak yang pada umumnya kurang berminat terhadap perdebatan akademik ahli teologi, sangat terkejut bagaikan terkena aliran listrik. Luther telah menyentuh masalah yang amat sensitif dan kata-katanya meledakkan emosi yang telah lama terpendam di hati ribuan orang. Luther mengirimkan salinan pamfletnya kepada beberapa kawan dan menyebarluaskan melalui percetakan-percetakan, sehingga ide itu terus bergulir. Pada bulan Desember 1517, tesis Luther telah mencapai kota Nuremberg, dan selang beberapa bulan tersebar di seluruh Eropa.

Akhirnya ide tersebut mengguncang dunia, dan menyebabkan perubahan-perubahan besar dalam gereja, maupun cara umat Kristen beribadah. Bagi Luther, yang terpenting dalam ibadah adalah, bagaimana agar jemaat mengalami dengan nyata tindakan penyelamatan Allah di dalam Kristus, dan itu hanya bisa dialami bila Firman diberitakan secara murni (semata-mata dari Alkitab), dan dalam bahasa yang dapat dimengerti. Luther-lah yang menterjemahkan Kitab Suci ke dalam bahasa Jerman (Nietzche, seorang filsuf Jerman yang ateis, menyatakan bahwa terjemahan kitab suci Luther, merupakan buku Jerman yang terbaik). Ini sangat revolusioner! Padahal, tata ibadah yang umumnya berlangsung saat itu adalah dalam bahasa Latin. Selain itu, khotbah dijadikan pusat ibadah, sebagai ganti Perjamuan Kudus (Ekaristi).

Selanjutnya, doktrin Martin Luther tentang “panggilan” dan tentang “imamat am orang percaya” telah memicu suatu perubahan radikal terhadap dunia bisnis dan orang-orang bisnis.  Apa yang radikal? Doktrin “panggilan”, maka orang dapat berkecimpung dalam dunia bisnis dengan kepala tegak, yaitu sebagai “panggilan” yang ditetapkan Allah sendiri.  Melalui pelaksanaan panggilan Allah, orang dapat melaksanakan kehendak Allah di sana! Allah tidak hanya memanggil orang untuk menjadi imam atau guru, tetapi juga sebagai pedagang dan pengusaha.

Doktrin “imamat am orang percaya” – dengan doktrin ini runtuhlah tembok pemisah antara “imam” dan “awam”, antara “biara” dan “dunia”, antara “doa” dan “kerja”. Profesi  apapun tidak lebih hina daripada imam. Bekerja di dunia usaha tidak lebih rendah daripada di lingkungan gereja. Bekerja tidak kurang mulia dibandingkan berdoa. Luther mengatakan, melalui doktrin tersebut seluruh dunia adalah “biara” kita. Di dalam dunia ini semua orang percaya, bekerja dan melakukan pangggilan Allah melalui pekerjaan masing-masing sebagai “imam” bagi dirinya dan orang lain. Seluruh karya manusia menjadi “doa” dan “ibadah.”

Sabda dan iman, yaitu Alkitab dan ajaran tentang pembenaran hanya oleh iman, merupakan pusat teologi Luther.

Gereja Roma Katolik Memandang Luther

Gerakan reformasi yang dimulai Martin Luther meninggalkan luka mendalam bagi Gereja Roma Katolik selama berabad-abad. Awalnya, pihak Roma Katolik terus mengeluarkan karya yang ‘meneror’ Luther, dimana Luther dianggap sebagai putra setan dan antikristus. Namun demikian, hal tersebut berubah secara radikal sejak pada era Konsili Vatikan II (1962-1965) Konsili Vatikan II menyebut Gereja Protestan bukan lagi sebagai “orang yang tersesat”, melainkan sebagai “saudara-saudara yang terpisah, namun satu dengan Gereja Katolik dalam iman kepada Kristus. Inilah tonggak pembaruan Gereja Roma Katolik.”

Pada tahun 1983, dibuat Deklarasi Bersama tentang Doktrin Justifikasi antara Gereja Roma Katolik dengan Federasi Lutheran se-dunia.  Tepat pada tanggal 31 Oktober 1999, dibuatlah Pernyataan Bersama tentang Doktrin Pembenaran. Pernyataan itu terdiri dari 44 pasal. Sesungguhnya, saat ini, 90% teologi Katolik dan Protestan adalah sama.

Gerbang Gereja Wittenberg Saat Ini

Pintu kayu asli gereja tempat Martin Luther memakukan 95 tesisnya, telah rusak dimakan api. Pada tahun 1858 pintu tersebut diganti dengan pintu logam. Di pintu logam ditatahkan 95 tesis Luther. Pada adegan penyaliban di atasnya, tampak Luther dan muridnya, Melanchton, di bawah salib.

 

Sumber:

  1. Abad Besar Manusia – Zaman Reformasi, PT Tira Pustaka, 1983
  2. Berbagai Aliran di Dalam dan di Sekitar Gereja – Pdt. Dr. Jan S. Aritonang, BPK Gunung Mulia, 2009
  3. Etika Sederhana Untuk Semua – Bisnis, Ekonomi dan Penatalayanan, Dr. Phil. Eka Dharmaputera, BPK Gunung Mulia, 2002
  4. Selamat Membarui – 33 Renungan tentang Reformasi Diri, Andar Ismail, BPK Gunung Mulia, 2017
  5. Selamat Berkiprah – 33 Renungan tentang Kesaksian, Andar Ismail, BPK Gunung Mulia, 2001
  6. Martin Luther – Musa Jerman, A. Eddy Kristiyanto OFM, cs. , Obor dan BPK Gunung Mulia, 2017


(Dimuat di Majalah Sahabat Vol.3 November 2017)

%d bloggers like this: