Daud dan Yonatan

Oleh: Ronald Pekuwali
Penyelarah Akhir: Nitya Laksmiwati

Menjalin persahabatan ibarat memiliki ‘saudara kembar’ yang Tuhan anugerahkan dalam hidup kita.  Persahabatan yang sejati dilandasi dengan ketulusan dan kesepahaman. Bukan dengan tujuan untuk mengambil keuntungan di salah satu pihak tertentu. Terbentuknya ketulusan memerlukan karsa dan upaya, serta kasih yang dicurahkan. Selain ketulusan, kesepahaman adalah kunci utama untuk menjalin persahabatan.

Kisah tentang persahabatan tak pernah habis untuk disampaikan. Termasuk yang tertulis di dalam Alkitab. Salah satu contohnya adalah persahabatan antara Daud dan Yonatan, seperti yang dituturkan dalam kitab 1 Samuel.

Tak diungkapkan secara jelas, bagaimana awal mula persahabatan antara Daud dan Yonatan. Daud adalah seorang gembala, warga masyarakat biasa, dan hidupnya amat sederhana. Sedangkan Yonatan adalah anak Raja, kaum bangsawan, dan berlimpah kekayaan Ditilik dari strata sosial dan ekonomi, keduanya jelas berbeda. Selain itu, perbedaan usia mereka pun cukup jauh. Berbagai perbedaan tersebut tak menjadi penghalang bagi mereka untuk menjalin tali persahabatan. Justru karena perbedaan itulah persahabatan mereka menjadi langgeng..

Terlepas dari sederet perbedaan itu, ada satu kesamaan yang memadukan jiwa mereka. Daud dan Yonatan sama-sama hanya mengandalkan Allah dalam hidup mereka. Hal ini terlihat saat Daud maju berperang melawan tentara Filistin. Daud menyadari bahwa bukan karena kekuatannya sendiri ia dapat mengalahkan tentara Filistin dan Goliat.

Sedangkan Yonatan memiliki keyakinan kuat bahwa Daud akan memenangkan peperangan tersebut karena campur tangan Allah.

Yonatan juga rela“….menanggalkan jubah yang dipakainya, dan memberikannya kepada Daud, juga baju perangnya, sampai pedangnya, panahnya dan ikat pinggangnya.” (1 Samuel 18:4), padahal jubah dan perlengkapan perang adalah lambang kehormatan dan kedudukan. Inilah bukti kasih Yonatan.

Persahabatan mereka kian teruji ketika Saul sangat membenci dan ingin membunuh Daud. Mengapa? Apa salah Daud sehingga kebencian menyeruak dan menguasai Saul? Siapakah Saul?  Saul adalah Aayah Yonatan., Demi Daud, Yonatan berani menyuarakan kebenaran, berseberangan sikap, dan menentang ayahnya sendiri. Mengapa Yonatan mati-matian membelah sahabatanya? Yonatan memiliki keyakinan kuat bahwa Daud tidak bersalah dan benar di hadapan Allah. Inilah salah satu ujian terberat dari sebuah persahabatan sejati.

Yonatan berani berkorban demi Daud, walau harus menerima umpatan dari ayahnya sendiri. Yonatan berpendapat bahwa Daud tak miliki kesalahan sedikit pun kepada Saul. Api kebencian menyulut hati Saul karena ia merasa iri hati dan ‘tak dianggap’ oleh rakyatnya sendiri. Kemenangan demi kemenangan yang diraih Daud setelah mengalahkan tentara Filistin dan menumbangkan Goliat, membuat Daud dielu-elukan oleh seluruh rakyat dan para wanita Israel. Amarah Raja Saul kian memuncak saat Daud memainkan kecapinya dan memuji-muji Tuhan Allah. Saul bertekad bulat untuk membunuh Daud.

Persahabatan Daud dan Yonatan dipisahkan oleh jarak karena Daud harus lari dari kejaran Saul. Yonatan bersusah hati hingga akhirnya ia pun meninggal. Daud memandang Yonatan untuk terakhir kalinya saat sahabatnya itu menyelamatkan dan melepasnya pergi dari kejaran Saul. Kepergian Yonatan untuk selama-lamanya menyisakan duka mendalam di hati Daud.

Walau demikian, Daud tetap memegang teguh dan mewujudnyatakan ikatan janji persahabatan mereka. Terbukti, Daud merawat dan melindungi anak Yonatan, Mefiboset. Kata Daud: “Janganlah takut, sebab aku pasti akan menunjukkan kasihku kepadamu oleh karena Yonatan, ayahmu; aku akan mengembalikan kepadamu segala ladang Saul, nenekmu, dan engkau akan tetap makan sehidangan dengan aku.” (2 Samuel 9:7).

Daud dan Yonatan mengawali secara singkat persahabatan mereka, namun keduanya tak pernah mengakhiri persahabatan mereka.

Persahabatan bukanlah soal kuantitas tapi kualitas. Persahabatan bukanlah sejak kapan melainkan sampai kapan. Persahabatan menjadikan perbedaan menjadi kekuatan. Anda tak perlu bersahabat dengan banyak orang namun berilah kualitas dalam persahabatan Anda. Dan Kualitas tersebut Anda miliki justru dalam masa-masa sulit yang sedang dialami oleh sahabat Anda. Apakah Anda akan tetap bersama sahabat Anda, atau meninggalkan sahabat Anda? Bukan membela sahabat dengan hanya memakai kacamata kuda, namun memberitahukan secara jujur kesalahan dan kebenaran terhadap sahabat Anda tanpa perlu meninggalkannya. Yakinkanlah pada sahabat Anda, ikatan persahabatan tak akan pernah mampu dipisahkan oleh ruang dan waktu.

(Dimuat di Majalah Sahabat Vol.1 Februari 2017)

%d bloggers like this: