Berdamai Dengan Masa Lalu

Oleh: Belinda Nainggolan
Penyelaras Akhir: Nitya Laksmiwati

“Memendam luka tidak membuat kita menjadi bahagia; dan mengampuni tidak membuat kita menjadi orang yang lemah”

Pernahkah Anda membuat daftar tentang karakter apa yang membentuk Anda menjadi pribadi seperti sekarang ini?  Coba buatlah daftar dengan 2 kolom terpisah. Masing-masing kolom diberi judul: Positif” dan “Karakter Negatif.” Lalu, tuliskan sesuai karakter Anda. Menurut Anda, bagian manakah yang sulit untuk diisi?

Kebanyakan kita merasa tak yakin, bahkan sulit untuk menuangkan apa saja yang termasuk dalam karakter positif, dibanding yang negatif.  Setelah kita menuliskannya, luangkanlah waktu untuk memikirkan bagaimana karakter negatif itu ada di dalam diri kita. Pada bagian ini, kita akan mulai merasa tak nyaman, menutup diri, bahkan cenderung menyangkal pada diri sendiri.

Ya, karakter bukanlah topik yang asyik untuk diperbincangkan. Ada area pribadi yang mengelilingi dan membentenginya. Tak jarang, seseorang perlu mengingat kembali kisah pengembaraannya di masa lalu dan menggali asal muasal karakter itu terbentuk. Yang muncul bukannya perasaan atas peristiwa yang menyenangkan, tapi justru membangkitkan duka lara, kekecewaan, pun amarah. Ada pula penyesalan mendalam karena salah langkah dalam mengambil keputusan. Tanpa disadari, ada luka menganga yang tak kunjung kering karena ketidakmampuan dan keenganan kita untuk mencari pertolongan. Lalu, bagaimana bila luka itu tercipta karena ditorehkan oleh orang yang terdekat dengan kita?

Luka fisik bisa menghambat untuk melakukan berbagai aktifitas. Luka batin dapat menjadi penghalang interaksi kita dengan sesama, sulit menerima diri sendiri, dan yang terburuk adalah menghambat hubungan kita dengan Allah. Luka batin membutuhkan kesediaan, keikhlasan, dan pengakuan orang yang mengalaminya untuk memperoleh kesembuhan.

Hal ini merupakan tantangan tersendiri dan cenderung menimbulkan konflik yang luar biasa. Ada pertentangan batin saat kita diperhadapkan dengan ajaran Allah bahwa kita harus bisa mengampuni orang yang bersalah, dan atau menyakiti kita. Saat posisi kita sebagai “korban,” ada hasrat yang luar biasa untuk mendapatkan pembenaran. Sebagai korban, berhak untuk mendapatkan rasa iba, membenci, membalaskan rasa dendam. Saat kita menjadi korban, mengapa kita harus menjadi pihak yang datang dengan pengampunan? Jawabannya sederhana: korban merupakan pihak yang paling membutuhkan pertolongan dan pemulihan.

Suatu ketika, sepasang kekasih, pernah bercerita awal kisah mereka hingga bisa menjadi pasangan sesama jenis.  Sang “pria” menjadi sosok yang melindungi wanita karena ia selalu menyaksikan ibunya menangis setiap kali ayahnya,  sang pelaut, pulang. Bukannya melepas rindu dan memberikan kebahagiaan, namun kepulangan ayahnya selalu diwarnai dengan pertengkaran dan air mata.

Sang “wanita” memilih berpasangan dengan wanita karena saat berumur 10 tahun ia pernah mendapat pelecehan seksual dari ayahnya. Rasa takut dan marah membuatnya membenci laki-laki. Masing-masing dari mereka mengalami sesuatu yang menyakitkan yang tidak dapat mereka tepis dari kehidupan dan tidak memahami cara menghadapinya. Pengalaman menyakitkan yang dialami keduanya berujung pada disorientasi seksual. Hal buruk berujung pada sesuatu yang buruk juga.

Luka batin juga bisa terjadi atas hukuman yang diterima atas kesalahan yang dilakukan. Pertobatan atas kesalahan menjadi lebih berat dilakukan karena hukuman yang diterima begitu terasa pahit dan menyakitkan. Perasaan bersalah yang terus mendera, adalah penjara batin yang tak kunjung berakhir.

Dari sebuah buku yang ditulis oleh seorang konselor pernikahan, sepasang kekasih nyaris membatalkan pernikahan mereka.  Calon pengantin wanita, Beverly, hamil saat ia masih duduk di bangku sekolah.  Selama kehamilan ia “dipenjarakan” di dalam rumah. Tidak diijinkan untuk berinteraksi dengan siapapun, bahkan orang tua Beverly nyaris tidak pernah berbicara dengannya. Setelah melahirkan, bayi tersebut langsung diberikan kepada orang lain, dan bayi tersebut tak pernah akui keberadaannya. Cara yang ditempuh orang tua Beverly itu untuk menjaga nama baik mereka, namun merenggut dan memutuskan hubungan Beverly dengan buah hatinya. Ini menjadi luka yang sangat mendalam. Ia menyimpan rasa marah dan tidak bisa mengampuni diri sendiri atas hukuman yang ia terima saat ia berusia 16 tahun.  Ia merasa bahwa keberadaannya hanyalah pergumulan untuk bertahan.

Betapa kita sering mendengar atau mencermati suatu peristiwa terjadi dan mengakibatkan rusaknya sebuah hubungan karena orang-orang yang berada di dalam lingkaran relasi tersebut mengalami luka batin. Buruknya lagi, disadari atau tidak, yang dilakukan oleh seseorang tersebut adalah akibat dari luka yang ditorehkan oleh orang lain kepadanya. Sebuah lingkaran luka yang tak ada habisnya.

Dalam satu perbincangan ringan dengan Pendeta Tohom Pardede, beliau mengatakan bahwa, “Pengampunan bisa kita dapatkan secara utuh saat kita juga bisa mengampuni diri kita. Berdamai dengan diri sendiri memampukan kita berdamai dengan orang lain.”

Allah telah menganugerahkan kemampuan kita untuk bisa merasa, baik melalui atau rasa iba yang timbul. Alkitab pun menuliskan beberapa kisah tentang hal buruk yang terjadi pada orang yang baik. Tuhan membentuk kita menjadi manusia yang kuat dan tahan uji melalui kejadian dalam hidup kita, dan lingkungan dimana kita ditempatkan.

Allah mengijinkan kejadian-kejadian yang membuat kita terluka itu terjadi. Allah menggunakan luka untuk membantu kita mendapatkan perspektif Allah: “Bukan yang dilihat manusia yang dilihat Allah; manusia melihat apa yang di depan mata tetapi Tuhan melihat hati (1 Samuel 16:7). Memendam luka tidak membuat kita menjadi bahagia, dan mengampuni tidak membuat kita menjadi orang yang lemah.

Pengampunan membuat ketenangan menguasai pikiran kita, ketika kita fokus kepada Allah, pelayanan Roh Kudus dalam diri kita meningkat, dan tidak terhalang. Dia memberi kita penghiburan dan kesehatan jiwa. Ketika Dia melayani kita, kita menjadi alat perdamaian di tangan-Nya.

Itulah yang akhirnya dilakukan oleh kedua teman yang saya ceritakan di atas tadi. Mereka akhirnya bertobat dengan mengampuni orang tua mereka dan kembali ke jalan yang berkenan di hadapan Allah.  Berdamai dengan penyebab luka batin mereka.  Sebuah kemerdekaan abadi yang diperoleh dari mengampuni.

(Dimuat di Majalah Sahabat Vol.2 Mei 2017)

%d bloggers like this: